by admin | Mar 24, 2025 | business, economics, financial markets, investing market news, news

Asian markets fluctuated on Monday as the White House plans to introduce tariffs on major trade partners starting next week, with concerns that these measures might inflict significant damage on the worldwide economy.
A report indicating that U.S. President Donald Trump was contemplating a more focused strategy for the tariffs scheduled to take effect on April 2nd failed to calm investors’ concerns, as the ambiguity undermined their confidence.
Since regaining power in January, the U.S. president has unsettled financial markets by criticizing longtime allies and implementing or threatening significant tariffs on various imported products such as steel and automobiles.
The upcoming Wednesday has become the center of interest, with Trump dubbing it “Liberation Day” as he gets ready to announce a series of retaliatory actions aimed at responding to what other nations have implemented.
“Ahead of Trump’s ‘Freedom Day’ scheduled for April 2nd, along with the subsequent wave of tariff-related statements expected in the coming days or weeks, anticipation and preparedness will increasingly influence market prices, investor sentiments, and trading volumes this week,” noted Chris Weston from Pepperstone.
As the sky turns darker and starts to show signs of bruising, with increasing atmospheric pressure felt across the capital markets, participants wonder whether they should prepare for an approaching storm of uncertainty by securing their positions.
Last week, the Federal Reserve cautioned that “the uncertainty surrounding the economic forecast has grown.” Similarly, the central banks of Japan and Britain expressed concerns regarding the effects of the White House’s policies.
Chinese Premier Li Qiang said at the weekend that Beijing was readying for “shocks that exceed expectations” ahead of the latest measures, adding that “instability and uncertainty are on the upswing”.
As he held meetings with leaders from several of the globe’s largest corporations, such as Apple, Qualcomm, FedEx, and Pfizer, his remarks were made public.
Australian Treasurer Jim Chalmers informed Bloomberg News that the actions taken by Trump are “not unexpected, yet they are transformative.”
According to Bloomberg News, the U.S. administration was contemplating a more selective strategy regarding tariffs, where certain nations would be affected more significantly than others, and the actions were anticipated to be less harsh compared to initial expectations.
This followed when the president informed reporters on Friday that he would show “flexibility” in his proposals.
Nevertheless, Asian investors found it difficult to kick-start the week on a positive note as markets seesawed throughout the morning.
Tokyo was flat, while Shanghai, Singapore and Taipei were slightly higher.
Hong Kong, Sydney, Seoul, and Wellington saw slight declines.
Gold traded near $3,025 after reaching several all-time highs the previous week, peaking above $3,057 due to increased demand for safe-haven assets.
Prominent individuals at approximately 0230 GMT
Tokyo – Nikkei 225: REMAINS UNCHANGED AT 37,676.97
Hong Kong – Hang Seng Index: Down 0.1% at 23,660.67
Shanghai – Aggregate: Increased by 0.1% to reach 3,369.57
Euro/dollar: Increased to $1.0831 from $1.0815 on Friday
Pound/dollar: Increased to $1.2930 from $1.2918
Dollar/Yen: Increased to 149.75 yen from 149.36 yen
Euro/pound: INCREASED to 83.76 pence from 83.72 pence
West Texas Intermediate: Down 0.2% at $68.13 per barrel
Brent North Sea Crude: Down 0.3% at $71.97 per barrel
New York – Dow: Increased by 0.1% to close at 41,985.35 points.
London – FTSE 100: Decreased by 0.6 percent to close at 8,646.79 points.
by admin | Mar 23, 2025 | economics, financial markets, investing, investing market news, news
Tips Efektif Mengelola Akun di ID.CO.ID – JAKARTA
.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penurunan dan menutup minggu dengan hasil negatif, jatuh 1,94% atau setara 123 poin menjadi level 6.258,17 pada hari Jumat (21/3). Selama seminggu terakhir, IHSG mencatatkan penurunan sebesar 3,95%.
Alrich Paskalis, seorang penasihat investasi dari Phintraco Sekuritas, mengatakan bahwa pasar tetap optimis akan ‘pengobatan’ yang ditawarkan oleh pemerintah Indonesia guna meningkatkan keyakinan para pemain di pasar modal dalam negeri.
“Pekan mendatang, para investor akan mengawasi data ekonomi Amerika Serikat (AS) per tanggal 25 Maret, yang mungkin berdampak pada keputusan Federal Reserve, seperti kemungkinan penurunan tingkat suku bunganya di tahun 2025,” jelas Alrich kepada Lifehack My ID pada tanggal 23 Maret.
Dia menyebutkan pula bahwa dari dalam negeri sendiri, aturan OJK yang mengizinkan tersebut menjadi faktor penting.
buyback
Tanpa melalui RUPS, proses tersebut masih membutuhkan beberapa saat sebelum memberi dampak yang signifikan terhadap IHSG.
Alrich memprediksi IHSG pada Senin (24/3) akan bergerak fluktuatif di rentang 6.100–6.370 menjelang libur panjang. Pergerakan ini dipengaruhi aksi ambil untung serta sentimen pasar terhadap data ekonomi global dan kebijakan The Fed.
Usai Trading Halt, IHSG Kembali Jadi Indeks Paling Bontot di ASEAN Pekan Ketiga Maret
Pada saat yang sama, analis dari RHB Sekuritas Indonesia, Muhammad Wafi mengatakan bahwa sentimen luar negeri seperti ketidakpastian resesi di Amerika Serikat memberikan tekanan besar kepada Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Hal ini tercermin dalam penurunan nilai komoditas serta perubahan arah beberapa saham milik grup bisnis besar.
“Sentimen dalam negeri memiliki sejumlah keraguan mengenai masalah politik, khususnya tentang penyetujuan Rancangan Undang-Undang Tentara Nasional Indonesia yang telah mendorong adanya protes, oleh karena itu banyak investor sedang memantau perkembangan ini,” jelas Wafi.
Dia mengatakan bahwa IHSG minggu depan diprediksi sepi, karena banyak investor yang melakukan pencairan aset menjelang masa liburan panjang. Dengan sedikit aktivitas perdagangan, indeks kemungkinan besar tertekan, sesuai dengan pendapat mereka.
wait and see
permintaan pasar dalam menghadapi kondisi ekonomi baik global maupun lokal.
Wafi meramalkan bahwa Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada hari Senin (24/3) akan berosilasi antara level 6.150 hingga 6.300. Dia menyarankan untuk fokus pada emiten-emiten dari sektor industri dan manufaktur yang masih tergolong undervalued, misalnya saja PT Astra Internasional Tbk (ASII), dengan estimasi potensi mencapai harga Rp 5.000 per saham.
Inilah Sentimen yang Akan Membayangi IHSG di Minggu Terakhir Sebelum Cuti Lebaran
by admin | Mar 23, 2025 | finance news, financial markets, investing, investing market news, investors
Inovasi Hidup Lebih Mudah dengan ID.CO.ID – JAKARTA.
Persepsi risiko investasi atau
Credit Default Swap
(CDS) jangka waktu lima tahun untuk Indonesia baru-baru ini menunjukkan peningkatan. Kondisi ini berlangsung seiring dengan goncangan yang mempengaruhi bursa saham dalam negeri.
Menurut informasi dari situs World Government Bonds, selisih risiko kredit atau CDS jangka waktu lima tahun untuk Indonesia pada minggu tersebut (23/3) adalah 91,66. Nilai ini mengalami peningkatan sebesar 11,08% dibandingminggu-minggu sebelumnya. Selain itu, CDS Indonesia juga menunjukkan kenaikan yaitu 28,82% dalam satu bulan terakhir serta 30,76% dalam enam bulan belakangan.
Pakar Pasar Keuangan dan juga Direktur Avere Investama Teguh Hidayat mengatakan bahwa meningkatnya sentimen risiko dalam berinvestasi disebabkan oleh arus dana asing yang melimpah keluar dari beberapa segmen seperti saham, surat utang, serta bidang usaha nyata. Misalnya saja, para investor luar negeri telah melakukan pencatatan di pasar modal.
net foreign
sel
L dari perdagangan di bursa efek Indonesia mencapaiRp 33,2 triliun secara total.
year to date
(hingga saat ini) sampai tanggal 21 Maret 2025.
Keluarnya modal asing dapat dipicu oleh sejumlah alasan, baik internal maupun external. Beberapa penyebab utamanya meliputi kebijakan tariff dari Presiden AS Donald Trump yang mengacaukan situasi geopolitik global, resesi hubungan Israel dan Palestina yang bangkit lagi, serta masalah politik di Turki sehingga merosotnya indeks pasar saham negeri itu.
Techno9 Indonesia (NINE) Selamatkan Dana Besar dari Pebisnis Singapura
Meskipun demikian, Teguh berpendapat bahwa elemen luar negeri kurang memiliki dampak signifikan terhadap para pemodal asing yang beroperasi di Indonesia. Sebalinya, para pemodal tersebut cenderung khawatir tentang situasi dalam negeri yang dipenuhi ketidakjelasan.
Baru-baru ini, pemerintahan menghadapi kritikan karena sejumlah keputusan terbaru mereka yang memicu demonstrasi besar-besaran dalam masyarakat. Sebagai contoh, pendirian Dewan Manajemen Investasi (DMI) Danantara telah menuai celaan akibat adanya dugaan bahwa hal itu membuka pintu bagi campur tangan urusan politik yang melibatkan para pejabat senior di lembaga tersebut.
Belum termasuk perdebatan seputar penyetujuan revisi UU Tentara Nasional Indonesia (TNI), yang menimbulkan kontroversi hingga memicu unjuk rasa di beberapa pusat kota utama. Arah gelombang protes bisa saja berulang saat pemerintah dan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) mulai merundingkanRUU Kepolisian Republik Indonesia (PolRI).
“Kebijakan-kebijakan kontroversial tersebut akhirnya menjadi perhatian bagi pers luar negeri. Melalui informasi itu, para investor asing menyadari situasi nyata yang berlangsung di Indonesia, membuat mereka khawatir untuk berinvestasi di sana dan pada akhirnya memilih untuk meninggalkannya secara sementara,” jelasnya, Minggu (23/3).
Analis pasar modal dari Universitas Indonesia yang bernama Budi Frensidy turut menyampaikan bahwa suasana politik di Indonesia sedang panas akhir-akhir ini setelah berbagai unjuk rasa terjadi sehubungan dengan perdebatan tentang keputusan pemerintahan. Ini tanpa raga akan mencerminkan persepsi risiko dalam bidang investasi di negara tersebut.
Di samping itu, Indeks CDS di Indonesia mengalami kenaikan akibat dari pemangkasan peringkat pasar modal domestik oleh dua institusi global, yaitu Morgan Stanley dan Goldman Sachs.
Kenaikan tingkat CDS di Indonesia akan memperberat pergerakan indeks harga saham gabungan (IHSG) dalam beberapa periode mendatang. Terlebih lagi, IHSG juga dipengaruhi oleh berbagai sentimen negatif yang muncul di kancah global.
“Tentu saja ini menjadi beban berat untuk IHSG, namun semoga hal tersebut tidak menyebabkan indeks jatuh di bawah level 6.000,” ujar Budi pada hari Minggu (23/3).
Walaupun terdapat risiko dari fluktuasi pasarnya tetap ada, Budi mengestimasikan bahwa Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bisa bergerak hingga tingkat sekitar 6.400 pada akhir kuarter I tahun 2025. Sedangkan untuk akhir tahun ini sendiri, dia meramalkan IHSG akan berkisar antara 6.700 hingga 6.800.
Dia pun mengestimasi bahwa saham perusahaan yang bergerak di bidang perkebunan kelapa sawit serta sektor makanan memiliki potensi untuk terus bertambah nilainya hingga tahun 2025 asalkan harga tetap stabil.
Crude Palm Oil
(CPO) dunia tidak menunjukkan pola penurunan. “Perusahaan yang memiliki potensi untuk meningkatkan saham mereka atau paling tidak stabil mungkin adalah perusahaan yang telah melaksanakan tindakan korporasi.”
buyback
,” imbuhnya.
Sebaliknya, Teguh mengestimasikan bahwa IHSG tetap memiliki risiko untuk jatuh di bawah level saat ini. Kondisi itu mungkin akan terwujud apabila pemerintahan tidak segera melakukan evaluasi atas keputusan-keputusannya yang berkaitan dengan keyakinan para investormu asing, disertai dengan penurunan kesehatan ekonomi negara secara keseluruhan.
“Bukan mustahil IHSG dapat turun hingga level 5.000. Namun demikian, diharapkan pemerintah tak mengeluarkan keputusan yang ganjil, agar bursa saham bisa bangkit,” jelaskan Teguh.
Meskipun demikian, ia belum dapat memberi rekomendasi tentang saham unggulan pada saat ini karena keadaan pasarnya yang belum pasti. Akibatnya, para investor lebih baik melakukan pantauan sambil menunggu terlebih dahulu.
Ahli Ungkap Alasan Kenaikan Resiko Berinvestasi di Indonesia (CDS)