oleh admin | Mar 25, 2025 | asia, indonesia, singapore, Travel, vietnam
According to a report by VisaGuide.World, an online resource offering free visa-related information globally, Thailand, Malaysia, and the Philippines have been included among the top 40 nations most suitable for digital nomads.
In the rankings, Thailand secured the 31st spot, succeeded by Malaysia at position 32 and the Philippines at 36. The evaluation considered various aspects including internet speed, taxation rules, duration of tax exemptions, income prerequisites for visa applications, cost of living, quality of healthcare services, and tourist attraction levels.
Thailand is lauded for its rapid internet connectivity.
quality of healthcare service
And tourism popularity; meanwhile, Malaysia and the Philippines received high scores due to their affordable cost of living.
Last year, Thailand initiated the
Destination Thailand Visa
This enables digital nomads to remain for as long as 180 days and remains effective for five years. To apply, one must pay a fee of 10,000 baht (approximately US$283). Additionally, candidates need to demonstrate a minimum financial capability of 500,000 baht.
In October 2022, Malaysia launched a digital nomad visa initiative aimed at luring remote workers globally.
For eligibility, applicants must have an annual income of at least $24,000.
The digital nomad visa for the Philippines was launched in June 2023.
“Lum Kamishi, a project manager at VisaGuide.World, noted that digital nomads favor locations with pleasant climates and warm welcomes, particularly those frequented by many travelers,” he stated.
Spain topped the list as the premier destination for digital nomads, closely trailed by the UAE and Montenegro.
oleh admin | Mar 23, 2025 | football clubs, indonesia, soccer, sports
Lifehack My ID
, JAKARTA – Kepala Teknik Tim Nasional Indonesia,
Patrick Kluivert
Mengungkapkan bahwa anak asuhannya memiliki kesempatan untuk mengalahkan Bahrain dalam pertandingan Kualifikasi Piala Dunia 2026.
Pelatih yang lahir pada tanggal 1 Julinya 1976 itu merasakan semua anggota timnya terpacu untuk mengungguli pasukan bernama Warriors of Dilmun tersebut.
Karena itu, tim Bahrain yang dilatih oleh Dragan Talajic tiba di Jakarta tanpa berada dalam performa terbaiknya setelah dikalahkan Jepang dengan skor 0-2.
Karena itu, Patrick Kluivert mendoakan agar Jay Idzes cum suis memiliki semangat yang setara dengan Jepang dalam upaya mengalahkan Bahrain di Jakarta.
Patrick Kluiver Siapkan Rencana Terbaik Untuk Tim Nasional Indonesia Menghadapi Bahrain
“Pada pertandingan terakhir, Jepang berhasil mengalahkan Bahrain. Saat ini kita pun perlu memenangkan laga melawan Bahrain,” jelas Patrick Kluivert ketika bertemu dengan media di area Senayan, Jakarta, pada hari Minggu (23/3).
Legenda Ajax itu
Timnas Indonesia
memiliki tujuan untuk mengalahkan Bahrain, terlebih lagi tim Garuda bermain di depan para pendukungnya sendiri.
Di pertandingan pamungkas di Stadion Gelora Bung Karno, tim nasional Indonesia berhasil mengalahkan Arab Saudi dengan skor 2-0.
Patrick Kluivert mengharapkan agar para pendukung dapat memberikan seluruh dukungan mereka kepada timnya yang akan bertanding melawan Bahrain.
Pelatih Tim Nasional Mengharapkan Kesabaran dan Kepercayaan Penyokong sepak bola Indonesia kepada Patrick
“Hasil pada pertandingan terdahulu pasti menyebabkan kita kecewa. Saya harap seluruh pendukung dapat menghadirkan support bagi kami untuk meraih hasil yang baik,” kata Patrick Kluivert.
Pertandingan antara Tim Nasional Indonesia dan Bahrain akan berlangsung pada hari Selasa (25/3) di Stadion Gelora Bung Karno, Jakarta.
Pada saat ini, tim nasional Indonesia menempati posisi keempat dalam tabel sementara grup C untuk babak kualifikasi Piala Dunia 2026.
Mendekati Pertandingan antara Timnas Indonesia melawan Bahrain, Erick Thohir Memperlihatkan Kesatuannya dengan Patrick Kluivert
Dalam tujuh pertandingan yang sudah dilakoni, Timnas Indonesia hanya berhasil meraih enam poin dari satu kemenangan, tiga seri, serta tiga kali kekalahannya.
(mcr16/jpnn)
ayo, tonton juga video berikut!
![]()
oleh admin | Mar 23, 2025 | culture, indonesia, politics, religion, world
BANGKOK, Lifehack My ID
Thailand pada dasarnya adalah negara di mana sebagian besar populasi beragama Buddha.
Di kawasan Sathorn, Bangkok, terdapat sebuah masjid dengan nama Masjid Jawa.
Berdasarkan namanya, masjid tersebut tampaknya mempunyai hubungan dengan Pulau Jawa di Indonesia.
ternyata Masjid Jawa ini adalah sebuah masjid yang didirikan oleh seorang pedagang asal Jawa.
Menurut Ketua Pengurus Masjid, Permsak Sutthichat, struktur masjid itu didirikan oleh Haji Muhammad Saleh, seorang pedagang dari Jawa.
Haji Muhammad Saleh saat berada di Thailand menemukan negeri tersebut kaya dan dipimpin oleh seorang raja yang murah hati.
Selain itu, dia mengatakan bahwa Thailand juga memberikan kemerdekaan beragama serta peluang ekonomi.
Permsak menyatakan bahwa Haji Muhammad Saleh setelah itu mendorong semakin banyak warga Indonesia untuk pergi ke Thailand, termasuk juga para teknisi.
“Mereka setelah itu memilih tinggal di komunitas tersebut. Haji Muhammad Saleh pun menyumbangkan lahan untuk konstruksi Masjid Jawa. Di samping itu, dana untuk membangun masjid ini juga terkumpul dari warga lokal,” jelasnya.
Warga Jawa telah berdatangan ke Thailand cukup lama, sejak masa Kesultanan Ayutthaya.
Selama masa pemerintahan Raja Rama V, ketika Masjid Jawa didirikan, sebagian besar pendatang Jawa hadir sebagai ahli teknik dan petani kebun.
Sutthichat menyebutkan bahwa Masjid Jawa sudah berumur 130 tahun, tetapi baru tercatat secara resmi kira-kira 120 tahun yang lalu, tepatnya di tahun 1905.
Dia menyebutkan bahwa Masjid Jawa bukan hanya dirintis oleh masyarakat Jawa, melainkan juga mendapatkan bantuan dari kelompok Melayu.
Walaupun demikian, desain bangunan masjid masih menampilkan ciri khas Jawa sebagai wujud penghargaan kepada tempat asal mereka lahir.
Sutthichat menyebutkan bahwa relasi di antara warga Indonesia dengan penduduk setempat sudah terjadi sejak dulu lewat proses pertemuan sosial, tukar-menukar informasi, serta perjalanan saling kembali.
Komunitas Masjid Jawa mendapatkan bantuan terus-menerus dari KBRI di Thailand.
oleh admin | Mar 23, 2025 | education, government, government regulations, indonesia, news
Lifehack My ID
Proses serta ketentuan untuk menerima beasiswa dari Kementerian Agama.
Peserta yang berhak mendapatkan beasiswa dari Kementerian Agama perlu memahami ketentuan untuk mendaftar dalam program Beasiswa Indonesia Bangkit (BIB) Tahun 2025.
Sekretariat Jenderal Kemenag melalui Pusat Pembiayaan Pendidikan Agama dan Pendidikan Keagamaan (Puspenma) akan segera mengadakan pendaftaran untuk BIB 2025.
Pernyataan itu dikirimkan oleh Sekretaris Jenderal Prof Phil Kamaruddin Amin, M.A., Ph.D di Jakarta pada hari Kamis tanggal 20 Maret 2025.
“Kabar mengenai registrasi BIB 2025 akan disampaikan pada tanggal 21 Maret 2025. Sedangkan proses pendaftarannya baru dibuka sejak 1 April 2025,” jelas Kamaruddin Amin seperti yang tercatat di situs web Kemennag pada hari Jumat, 21 Maret 2025.
Menurut penjelasan Kamaruddin Amin, BIB adalah program beasiswa yang berkolaborasi antara Kementerian Agama dan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) di bawah Kementerian Keuangan Republik Indonesia.
Tujuan utamanya adalah memperbaiki kemampuan sumber daya manusia dalam lingkup Kementerian Agama terutama di tiga sektor: ilmu pengetahuan dan teknologi, studi sosial-humaniora, serta bidang keagamaan.
“Tujuan kami adalah menyediakan peluang sebesar-besarnya bagi publik agar dapat mengikuti pendidikan tingkat tinggi, entah di dalam negri atau pun mancanegara, tanpa adanya hambatan dari segi finansial,” tambahnya.
Selanjutnya, Kamaruddin Amin menyatakan bahwa Kementerian Agama berencana mencari kandidat penerima beasiswa (Awardee) yang ingin melanjutkan pendidikan hingga ke tingkat S1, S2, dan S3 baik di dalam maupun luar negeri dengan program pembiayaan sepenuhnya tercakup.
Jenis Beasiswa
Saat itu, Kepala Puspenma Kemenag, Ruchman Basori menyebut bahwa calon peserta bisa menentukan tipe beasiswa yang tersedia.
Terdapat tiga macam beasiswa yaitu beasiswa umum, beasiswa berprestasi, serta beasiswa terfokus.
-
Beasiswa umum merupakan program bantuan pendidikan biasa yang ditujukan untuk anggota lingkungan internal Kementerian Agama, termasuk pelajar pondok pesantren, sekolah, universitas, guru-guru, ustaz, pengajar, karyawan di bidang pendidikan agama, serta staf dari Kementerian Agama itu sendiri. Hal ini juga mencakup para lulusan pendidikan keagamaan.
-
Beasiswa prestasi merupakan program bantuan keuangan untuk para kandidat yang telah mencapai pencapaian dalam bidang akademis maupun non-akademis seperti hafalan Al-Qur’an atau menjadi juara di Olimpiade, baik pada skala nasional ataupun internasional.
-
Beasiswanya ditujukan sebagai bentuk afirmasi lewat Program PBSB atau Beasiswa Santri Berprestasi serta program Pendidikan Jarak Jauh S1 di UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon (UIN SSC).
Ketentuan Pendaftaran Beasiswa Indonesia Bangkit Tahun 2025
Para kandidat yang ingin mendaftar dimohon untuk mempersiapkan berbagai dokumen penting, termasuk beberapa di antaranya adalah sebagai berikut:
Keterampilan dalam Bahasa Inggris (TOEFL) ataupun Bahasa Arab (TOAFL);
Usia paling lama adalah 40 tahun bagi program S2 dan 45 tahun untuk program S3.
Mempunyai diploma atau sertifikat kelulusan;
Sebagai bagian dari keluarga besar Departemen Agama Republik Indonesia;
Melengkapi persyaratan administrasi lainnya.
Akhirnya, Ruchman Basori mendorong seluruh anggota dari keluarga besar Kemenag (termasuk santri, pelajar, mahasiswa, guru, ustaz, dosen, staf kependidikan, serta alumni program pendidikan agama dan pekerja di Kementerian Agama) agar mengeksplorasi manfaat dari kesempatan istimewa yang ada.
Pelamar diminta untuk segera mengumpulkan berkas-berkas yang diperlukan supaya dapat melakukan registrasi secara tepat waktu menurut ketentuan serta prosedurnya. Informasi lebih lanjut tentang hal ini tersedia di situs web resmi.
beasiswa.kemenag.go.id
.
(Tribunnews.com/Latifah)
oleh admin | Mar 23, 2025 | indonesia, soccer, sports
JAKARTA, Lifehack My ID
Setelah pulang dari Australia, tim nasional sepak bola Indonesia segera menyiapkan dirinya untuk pertandingan yang sangat penting melawan Bahrain di babak ketiga Kualifikasi Piala Dunia 2026 zona Asia.
Timnas Garuda melaksanakan sesi latihan di Stadion Madya, Jakarta, pada hari Sabtu (22/3/2025) serta Minggu (23/3), sebagaimana menjadi bagian dari persiapannya untuk pertandingan besar yang direncanakan berlangsung pada Selasa (25/3).
Dua puluh enam atlet berpartisipasi dalam sesi latihan yang dikendalikan secara langsung oleh pelatih Patrick Kluivert. Akan tetapi, Mees Hilgers, Sandy Walsh, serta Ole Romeny tidak hadir pada kesempatan itu.
Sebelumnya, tim nasional sepak bola Indonesia, yang dikenal sebagai Skuat Garuda, juga telah melakukan latihan pada hari Jumat (21/3). Latihan tersebut hanya dihadiri oleh ketiganya saja dari posisi penjaga gawang yaitu Emil Audero, Ernando Ari, serta Nadeo Argawinata.
Bek naturalisasi, Calvin Verdonk, mengungkapkan sikap optimistis menjelang pertandingan melawan Bahrain dan berpendapat bahwa timnas Indonesia atau skuad Garuda memiliki kesempatan yang baik untuk memperbaiki diri setelah kalah pada pertandingan terakhir mereka.
“Menurut saya, kita mulai dengan cukup baik di Australia. Kami menguasai seluruh permainan. Namun, karena kita melakukan kesalahan sendiri, lawan berhasil meraih kemenangan. Semoga saja nanti melawan Bahrain akan mendapatkan hasil yang lebih positif,” ungkap Calvin Verdonk.
Dia juga menekankan kebutuhan untuk memperbaiki kinerja saat pertandingan berhenti, yang merupakan aspek penilaian terpenting bagi skuad tersebut.
We should be better at this.
set-piece
. Ini juga berhubungan dengan sikap yang kami tunjukkan dalam
set-piece
Jika kita berhasil memenangkan pertarungan tersebut.
set-piece
, lawan kita tidak mungkin memenangkan pertandingan ini. Oleh karena itu, kami perlu meningkatkan kinerja agar menjadi lebih unggul.
set-piece
Menurut pemain yang berasal dari klub NEC Nijmegen tersebut dilansir dari situs resmi PSSI.
Di tabel klasemen sementara Grup C, timnas Indonesia untuk sekarang ini duduk di peringkat empat dengan total tujuh angka.
Ketiga tempat pertama diambil oleh Jepang, Australia, dan Arab Saudi. Pertandingan menghadapi Bahrain sangat vital untuk menentukan harapan Indonesia tetap hidup dalam persaingan untuk maju ke fase selanjutnya pada jalannya meraih kesempatan tampil di panggung internasional.
oleh admin | Mar 23, 2025 | art, culture, history, indonesia, religion
Pernakah Anda membayangkan jika Al-Qur’an disusun oleh banyak sekali tangan terlatih berasal dari berbagai daerah negri cuma dalam waktu beberapa jam? Ini adalah cerita dibalik munculnya Mushaf Nusantara.
Tangan-tangan terlatih itu menggoreskan tinta pada lembaran kertas berukuran 100×70 cm, menciptakan desain indah dan tepat yang mempesona Menteri Agama Nasaruddin Umar. Adegan tersebut muncul di auditorium HM Rasyidi, Kementerian Agama Republik Indonesia, tempat pembuatan mushaf Nusantara diprakarsai oleh Lembaga Kaligrafi Al-Qur’an (Lemka) bekerjasama dengan Kemenag RI. Dalam proyek ini melibatkan 35 kaligrafer ahli dari Jakarta, Banten, serta bagian dari Jawa Barat.
Di waktu yang sama, di 29 provinsi lainnya, ratusan calligrafers juga melaksanakan kegiatan sejenis. Coba bayangkan, ada 365 caligrafers dari seluruh pelosok Indonesia menuliskan tinta untuk menciptakan satu juz Al-Quran dengan lebih dari 600 lembar halaman, semua itu diselesaikan dalam waktu kurang dari 10 jam!
Berkat prestasi tersebut, Museum Rekor Indonesia (MURI) juga telah mencatatkan dua rekornya secara bersamaan. Yang pertama adalah Mushaf Nusantara sebagai karya tulis paling banyak oleh berbagai penulis dan diselesaikan dalam periode singkat. Sementara itu, kedua, mushaf ini memiliki hiasan ilustratif Nusantara tertinggi, memperlihatkan 106 desain unik yang mewakili keragaman budaya dari seluruh 38 provinsi di tanah air kita.
“Pastinya ini merupakan karya monumental dari putera tanah air, dan kelak kaligrafipun dapat kita daftarkan sebagai hak kekayaan intelektual di UNESCO,” ungkap Menteri Agama sambil berseri-seri.
Dimulai dari Peringatan 40 Tahun Lemka
Segala sesuatunya dimulai pada saat spesial: perayaan empat puluh tahun lembaga kaligrafis Qur’an bernama Lemka. Sebagai ganti pesta rutinitas, Didin Sirojuddin AR selaku direktor Lemka beserta rombongan manajemen dan pendidik Pondok Kaligrafi Lemka di Sukabumi memutuskan untuk menciptakan hal “yang tak terlupakan” – suatu warisan yang akan diperingati sepanjang zaman. Ide ini kemudian melahirkan konsep penulisan Mushaf Al-Qur’an yang luar biasa.
Awalnya, proyek ini bernama “Mushaf Lemka Nusantara”. Namun, demi menghindari kesan eksklusif, sekaligus sebagai sebuah persembahan untuk bangsa, kata “Lemka” direlakan. Jadilah nama yang lebih singkat; Mushaf Nusantara.
“Cara apa agar mushaf ini menjadi unik dibandingkan dengan mushaf-mushaf sebelumnya?” Ini adalah pertanyaan yang berulang kali muncul dalam pembicaraan mereka.
Jawabannya ternyata ada di depan mata: memanfaatkan kekayaan SDM kaligrafer alumni Lemka. Selama 40 tahun perjalanannya, Lemka telah melahirkan ribuan alumni berbakat —baik dari kursus kaligrafi di Fakultas Adab UIN Jakarta sejak 1986, lalu di masjid As-Salam Ciputat, Tangerang Selatan, maupun dari Pesantren Kaligrafi Lemka Sukabumi yang berdiri sejak 1998.
Diantaranya, sebagian besar telah meraih gelar juara dalam kompetisi kaligrafi bertaraf internasional serta memenangkan penghargaan di ajang MTQ Nasional kategori Kaligrafi. Ini merupakan sumber daya berharga yang selanjutnya digunakan untuk mengerjakan projek skala besar tersebut.
Selanjutnya, tampak angka 365, menggambarkan total hari dalam satu tahun. Yang menarik, jumlah kaligrafer antusias untuk bergabung justru melebihi angka tersebut. Saat daftar namanya lengkap, ditemukan sesuatu yang mencengangkan: kaligrafer-partisipan datang dari 30 propinsi di Indonesia—sesuai dengan jumlah hari dalam sebulan!
![]()
Hanya delapan propinsi yang tidak mengikutsertakan kaligrafternya, yakni Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Utara, serta keenam propinsi di Papua. Mengingat ada sebanyak 365 kaligraphers yang rela berpartisipasi, akhirnya timbul ide baru: menciptakan Mushaf Nusantara hanya dalam jangka waktu 10 jam!
” Ini merupakan peristiwa yang belum pernah terjadi sebelumnya di Indonesia dan bahkan di seluruh dunia. Proses penulisan mushaf biasanya membutuhkan waktu beberapa bulan. Namun, untuk mushaf Istiqlal ini proses pengerjaannya mencapai hampir lima tahun,” jelas Didin.
Tantangan selanjutnya timbul: bagaimana memastikan konsistensi standar penulisan ketika melibatkan ratusan penggaris tinta?
Berikut ini adalah dua alternatif solusinya. Yang pertama, para calon kaligrafer haruslah mereka yang paling tidak sudah pernah memenangkan kompetisi kaligrafi di tingkat propinsi atau setingkat itu. Hal tersebut bertujuan untuk menjaga kualitas tulisan tetap baik serta mencegah adanya kesenjangan pada output akhirnya.
Kedua, di tiap halaman mushaf yang bakal ditulis sudah tersedia gambaran awal menulis sesuai dengan pedoman Rasm Utsmani. Proses pembuatan gambaran ini dilakukan oleh 35 kaligrafis dari Lemka yang sebelumnya turut serta dalam penggarapan mushaf tersebut. Metode seperti itu memastikan bahwasanya walaupun ada beberapa orang yang melakukan penulisan, seluruh halaman masih mengikuti kaidah penulisan mushaf secara resmi.
Menggunakan Corak Khat Naskhi
Konsep untuk membuat Mushaf Nusantara ini muncul dari ide Kasubdit MTQ Kemenag RI, Rijal Ahmad Rangkuty saat berbincang dengan Tim Pengarah Mushaf Nusantara. Berbekal diskusi yang hangat tersebut, tak butuh waktu lama bagi Menteri Agama untuk memberikan dukungan total serta menjadi penyokong utama proyek ini. Bahkan, ia memposisikannya sebagai salah satu komponen penting dalam rangka menuju Festival Istiqlal III.
Di tengah perjalanan, muncul usulan dari Dirjen Bimas Islam Kemenag RI; bagaimana jika mushaf ini ditulis dengan corak kaligrafi khas Indonesia, bukan dengan gaya Naskhi yang umum digunakan? Usulan yang tampak menarik pada awalnya —menghadirkan identitas lokal pada kitab suci.
Meski demikian, Direktur Lemka Didin menekankan bahwa kaligrafi mempunyai dua aspek penting: fungsi — agar dapat dibaca, dan estetika — untuk dekorasi. Kitab suci Al-Quran, yang setiap hari dibaca oleh umatnya, perlu memberikan prioritas pada sisi fungsional tersebut. Secara keseluruhan, masyarakat Muslim sudah sepakat bahwa jenis tulisan Naskhi —yang berarti “naskah” atau “teks”— merupakan satu-satunya gaya yang pantas digunakan dalam penyusunan mushaf.
Perjanjian ini bukan sesuatu yang diputuskan begitu saja, tapi merupakan produk dari suatu proses berkelanjutan selama lebih dari satu milenium. Pada awalnya, mushaf sempat dicoba menggunakan gaya tulisan Kufi berasal dari Kufah, akan tetapi ternyata tidak cocok lantaran menghabiskan banyak kertas hingga ribuan lembar apabila diimplementasikan dalam sebuah mushaf. Sehingga Khalifah Muawiyah dinasti Umaiyah memberikan instruksi untuk mencari desain yang lebih hemat namun masih menjaga identitas setempat.
Berdasarkan instruksi dari Muawiyah, dilakukanlah sebuah percobaan yang berlangsung selama ratusan tahun. Percobaan itu dimulai dengan variasi gaya Tulisan Tumarik, kemudian diikuti oleh pola Jali, Nisab, Tsuluts, Tsulutsain, sampai ke Muhaqqaq. Melalui proses penyelidikan yang cukup panjang, dunia Islam pada akhirnya berhasil mendapatkan solusinya. Gaya Naskhi ternyata menjadi pilihan paling tepat serta efisien untuk ditulis dalam mushaf Al-Quran, suatu konsensus yang masih tetap dipertahankan hingga saat ini.
Masalah lain yang muncul ialah kurang adanya satu gaya kaligrafi nusantara khas yang telah disepakati dan dibuktikan secara ilmiah serupa dengan pola Naskhi. Hingga saat ini, hanya beberapa variasi individu saja yang dikenal, misalnya seperti kaligrafi bergaya Syaifuli—gaya ini dinamai Demikian oleh Didin menghormati Syaiful Adnan, sang seniman kaligrafi keturunan Minang yang bermukim di Yogyakarta.
Model ini dikenal dengan karakteristik rangkaian kakinya berbentuk seperti huruf ‘wawu’ atau ‘ra’, mirip tanduk kerbau. Walaupun mempesona, Didin menggarisbawahi bahwa “gaya Syaifuli sebaiknya diklasifikasikan ke dalam bidang estetika daripada fungsi praktis.”
Pilihan untuk menggunakan khat Naskhi dalam Mushaf Nusantara tidak bermakna meninggalkan karakteristik unik Indonesia. Malahan, hal itu merupakan suatu bentuk kesederhanaan—mengetahui kapan sebaiknya mengikuti praktik universal dan kapan pula perlu memperlihatkan ciri asli daerah setempat. Elemen-or namental Indonesianya masih tampak lewat proses pencahayaan atau dekorasi tepi yang istimewa, sedangkan bagian intinya tetap tertulis dengan gaya yang sudah lama diujicobakan sepanjang ratusan tahun.
Seperti halnya sebuah bangunan yang kuat, Mushaf Nusantara menunjukkan bahwa kita dapat menyatuakan landasan universal dengan hiasan lokal yang penuh arti, menciptakan suatu hasil yang memesona tanpa merugikan fungsinya sebagai rumah.
Pencerahan terkait simbol Bhinneka Tunggal Ika
Perlu dicatat, meskipun demikian, bahwa di dalam mushaf Al-Qur’an, iluminasi tidak hanya berfungsi sebagai dekorasi tepi untuk memperindah halaman saja. Tim Lemka sangat menyadari makna filosofis tersebut sejak tahap perencanaan awal Mushaf Nusantara.
Sebagaimana ungkapannya “to illuminate” yang artinya menyinar atau menerangi, iluminasi pada mushaf bertujuan untuk mempertegas—bukan mengecilkan—keberadaan ayat-ayat suci. Martin Lings menjelaskan dalam buku “The Quranic Art of Calligraphy and Illumination”-nya bahwa sebuah mushaf berkualitas perlu mencapai harmoni di antara aspek estetika visual dengan kemudahan membaca teks, serta seimbang antara elemen dekoratif dan tulisan. Keseimbangan tersebut terwujud melalui gabungan intelijensi dan imajinasi, sensitivitas seni, serta keahlian teknikal yang handal.
Untuk memperkuat sisi ini, Lemka sangat serius dalam menciptakan iluminasi untuk Mushaf Nusantara. Perusahaan tersebut menunjukkan kepercayaannya kepada Dr. Achmad Haldani, M.Sn—seorang spesialis iluminasi yang sebelumnya merancang Mushaf Istiqlal—dalam peran sebagai penasihat teknikal. Proses pembuatan desain, konversi ke format digital, serta prosedur pemberian warna melibatkan belasan hingga puluhan illuminators baik secara manual maupun dengan bantuan komputer; semuanya adalah santri ataupun mantan siswa dari Lemka yang sudah dibuktikan bakat mereka setelah menjadi juara di bidang kaligrafi nasional pada lomba Tilawah Quran (MTQ) dalam kategori Hiasan Mushaf atau Desain Interior. Kerjasama antara para profesional senior dan artis muda potensial ini berhasil membentuk sebuah iluminasi yang bukan saja memiliki tampilan estetika tinggi, namun juga sarat akan nilai-nilai mendalam.
Seperti halnya nama “Mushaf Nusantara”, lampu-lampu indah yang mempercantik tiap halamannya diciptakan untuk menunjukkan ide tentang persatuan dalam berbagai macam budaya Indonesia, menyampaikan semangat Bhinneka Tunggal Ika secara visual. Elemen kedaerhaan begitu mencolok pada desain hiasannya, dengan gambar-gamba rrepresentatif dari seluruh 38 provinsi negeri kita. Coba bayangkan saat Anda nanti membuka mushaf ini; setiap dekorasi, kurva dan garis, serta paduan warna akan bercerita tentang keberagaman budaya dari Sabang hingga Merauke, menjadikan al-Quran lebih cantik lagi dengan sentuhan seni Indonesia.
Setelah proyek pencahayaan selesai, ditemukan 106 pola unik yang mempercantik Mushaf Nusantara. Ini menunjukkan bahwa tiap provinsi menyumbangkan antara tiga sampai empat motif lokal. Misalkan dari Jawa Barat, kita temui pola Batik Kujang, Mega Mendung, dan Wadasan yang sangat mencerminkan ciri khas suku Sunda. Di sisi lain, dari Sulawesi Utara tampak motif Cakalang, Tinutuan, Manguni, serta Kawung Manado.
Keanekaragaman desain pada karya ini tak hanya berupa rangkaian pola dekoratif biasa, melainkan merupakan representasi visual dari kebudayaan Indonesia yang disajikan dengan penuh kasih sayang terhadap tanah air. Dengan pencahayannya, Mushaf Nusantara bukan semata-mata membawa ayat-ayat suci Allah, namun juga mencerminkan kecantikan Indonesia—merupakan sebuah karya seni yang menyatukan esensi spiritualisme Islam dengan warisan budaya lokal dalam keserasian yang luar biasa.
Mendobrak Kevakuman Tradisi
Rekor sebagai penulis paling banyak yang dicatat oleh Mushaf Nusantara menunjukkan sebuah fakta penting: Indonesia telah menciptakan ratusan kaligrafer dengan kemampuan berskala global. Bukan hanya ahli lokal, tetapi juga juara sering kali mengalahkan pesaing-pesaing dari wilayah Timur Tengah pada kompetisi-kompetisi kaligrafari Arab di negara-negara asal tulisan-tulisan tersebut. Geografisnya berada di luar pusat peradaban Arab namun berhasil melebihi mereka dalam bidang seni kaligrafi ini! Di antara 16 ajang perlombaan kaligrafi tingkat dunia yang beberapa diantaranya digelar di Timur Tengah, Turki serta Iran; saat ini kaligrafer- Kaligrafer Indonesia selalu menjadi dominator. Sebagian besar daripada mereka merupakan alumnus Lemka.
Kehadiran Mushaf Nusantara ini mirip dengan menyadarkan kembali tradisi para seniman Muslim zaman dahulu yang menunjukkan kasih sayang mereka kepada Al-Qur’an lewat penggambarannya dalam mushaf. Pasca periode dimana teknologi pencetakan dan komputer mendominasi, sepertinya budaya menulis mushaf telah dilupakan. Sejak peresmian Mushaf Istiqlal oleh Presiden Soeharto kurang lebih tiga dekade yang lampau (1995), cuma segelintir naskah suci seperti Mushaf At-Tin dan Mushaf Sundawi saja yang diperkenalkan, kemudian ada jeda panjang tanpa adanya perkembangan lainnya. Mudah-mudahan, Mushaf Nusantara akan merangsangkan semangat kreatif generasi penerus kita agar menciptakan banyak mushaf baru dengan variasi gaya tulis serta pola ilustrasinya yang unik.
Tentu saja, menganjurkan kebiasaan menulis mushaf sejak usia dini harus digalakkan secara luas bagi para santri di pesantren serta siswa madrasah. Sejauh ini, kurikulum pengajaran Al-Qur’an cenderung lebih fokus pada keterampilan membaca.
tilawah
dan
tahfidz
). Sebenarnya di dalam Al-Qur’an, terdapat perintah untuk membaca (
iqra
‘) juga disertai dengan perintah untuk menulis (‘
alladzi ‘allama bil qalam
). Menulis Al-Qur’an tidak hanya meningkatkan kemampuan tangan, tetapi juga membina kesabaran, kehati-hatian, serta hubungan yang lebih dekat dengan kitab suci Allah.
Seiring berjalannya waktu, rasa cinta terhadap membaca dan menulis Al-Qur’an dapat memupuk kesadaran estetika serta ketelitian spiritual dalam diri para pemuda. Secara alami, seni kaligrafi dan ilustrasi kitab suci pun bisa menyuguhkan tampilan “Islam sebagai warisan budaya” yang lebih tenang, segar, dan memesona; hal ini bertolak belakang dengan “gambaran Islam politik” yang sering kali tampak agresif dan umumnya mendominasi arena publik kita saat ini. Bukan begitu pula makna dari nasihat Nabi yang mengatakan bahwasanya Tuhan adalah Yang Mahamerdu dan sangat mencintai kemerduan?
Dengan Mushaf Nusantara, kita disadarkan akan Islam yang tak sekadar menjadi bagian dari pembicaraan politik atau perselisihan teologis serta perkembangan hukum syariah, tetapi juga terwujud melalui tulisan-tulisan indah yang membingkai halaman-halamannya, menyajikan ketenangan bagi hati dan meredam pikiran.
Wallahu a’lam bi as-shawab