Sejarah Megahnya Masjid Jawa di Thailand: Warisan Saudagar Jawa yang Kini Berusia 13 Century Lebih

Sejarah Megahnya Masjid Jawa di Thailand: Warisan Saudagar Jawa yang Kini Berusia 13 Century Lebih


BANGKOK, Lifehack My ID

Thailand pada dasarnya adalah negara di mana sebagian besar populasi beragama Buddha.

Di kawasan Sathorn, Bangkok, terdapat sebuah masjid dengan nama Masjid Jawa.

Berdasarkan namanya, masjid tersebut tampaknya mempunyai hubungan dengan Pulau Jawa di Indonesia.

ternyata Masjid Jawa ini adalah sebuah masjid yang didirikan oleh seorang pedagang asal Jawa.

Menurut Ketua Pengurus Masjid, Permsak Sutthichat, struktur masjid itu didirikan oleh Haji Muhammad Saleh, seorang pedagang dari Jawa.

Haji Muhammad Saleh saat berada di Thailand menemukan negeri tersebut kaya dan dipimpin oleh seorang raja yang murah hati.

Selain itu, dia mengatakan bahwa Thailand juga memberikan kemerdekaan beragama serta peluang ekonomi.

Permsak menyatakan bahwa Haji Muhammad Saleh setelah itu mendorong semakin banyak warga Indonesia untuk pergi ke Thailand, termasuk juga para teknisi.

“Mereka setelah itu memilih tinggal di komunitas tersebut. Haji Muhammad Saleh pun menyumbangkan lahan untuk konstruksi Masjid Jawa. Di samping itu, dana untuk membangun masjid ini juga terkumpul dari warga lokal,” jelasnya.

Warga Jawa telah berdatangan ke Thailand cukup lama, sejak masa Kesultanan Ayutthaya.

Selama masa pemerintahan Raja Rama V, ketika Masjid Jawa didirikan, sebagian besar pendatang Jawa hadir sebagai ahli teknik dan petani kebun.

Sutthichat menyebutkan bahwa Masjid Jawa sudah berumur 130 tahun, tetapi baru tercatat secara resmi kira-kira 120 tahun yang lalu, tepatnya di tahun 1905.

Dia menyebutkan bahwa Masjid Jawa bukan hanya dirintis oleh masyarakat Jawa, melainkan juga mendapatkan bantuan dari kelompok Melayu.

Walaupun demikian, desain bangunan masjid masih menampilkan ciri khas Jawa sebagai wujud penghargaan kepada tempat asal mereka lahir.

Sutthichat menyebutkan bahwa relasi di antara warga Indonesia dengan penduduk setempat sudah terjadi sejak dulu lewat proses pertemuan sosial, tukar-menukar informasi, serta perjalanan saling kembali.

Komunitas Masjid Jawa mendapatkan bantuan terus-menerus dari KBRI di Thailand.

Korean Desserts to Try: Bingsu & Tteok Lead the Way

Korean Desserts to Try: Bingsu & Tteok Lead the Way

South Korea goes beyond offering K-pop rhythms, kimchi, and ultramodern vistas; it’s also a haven for those with a sweet tooth! This nation boasts an array of innovative and lavish treats that delight dessert enthusiasts from around the globe.

The dessert scene in South Korea is just as vibrant and varied as its history. Regardless of your location,

In vibrant street markets or trendy cafes, you’ll discover some of the most intriguing treats. Influenced by its neighbors China and Japan as well as its rich food traditions, Korean confections offer a distinct array of desserts. Whether for celebrations and holidays or everyday consumption, these six incredible desserts should not be missed when visiting South Korea.


Heading to South Korea? You might find these articles interesting:

  • 9 Lesser-Known Korean Culinary Delights You Should Sample When Visiting South Korea
  • The loveliest national parks in South Korea for immersing yourself in both nature and history.
  • The most striking Buddhist temples in South Korea

6 mouthwatering Korean desserts you should taste


Bingsu

Should desserts have monarchs, Bingsu would surely sit upon the throne as king! This heavenly, light-as-air shaved ice delicacy dissolves on the tongue like a soft flurry of snow. As an iconic summertime favorite, Bingsu provides a wonderful respite from the sweltering temperatures in Korea. Be it the authentic Patbingsu adorned with sugary azuki beans and sticky rice cakes or the opulent mango variation, every bite is irresistibly refreshing.


Hotteok

A beloved wintertime treat, Hotteok was introduced to Korea by Chinese traders. The local people added their own sweet touch, resulting in a crispy-outside yet oozy-inside pancake-like delicacy. Packed with brown sugar, cinnamon, and nuts, this popular street food is ideally savored right after it comes off the skillet.


Tteok

Tteok is not merely considered a dessert; it serves as a cultural symbol. These sticky rice cakes boast numerous variations, yet for an extraordinary experience, consider trying Songpyeon. Shaped like crescents, these rice cakes are customarily consumed during Chuseok (the Korean Thanksgiving), often stuffed with ingredients such as honey, sesame seeds, or chestnuts. Moreover, they can be prepared through various methods—steaming, pounding, or grilling—which adds different textures and flavors to each bite.


Kkwabaegi

Gentle, soft, and dusted with cinnamon sugar, Kkwabaegi represents South Korea’s cherished twisted doughnut. With their lovely gold hue and wonderfully light texture, these delectable treats are an absolute must-try for those fond of classic donuts infused with a Korean touch.


Bungeoppang

Fish-shaped treats stuffed with either sweet red bean paste or smooth custard, bungeoppang stands out as an adorable dessert in Korean cuisine. This delightful winter staple boasts a crispy exterior and a cozy, creamy interior, making it perfectly photogenic for social media shares. Contemporary twists now incorporate fillings like custard, chocolate, or even sweet potato.


Ggul Tteok

The centerpiece of Korean celebrations, Ggul Tteok, is a delightful blend of glutinous rice cake brimming with amber-hued honey and sesame seeds. These small confections are soft, elastic, and subtly nutty, exuding sheer luxury.

Mengukir Sejarah, Membuka Batas: Kisah Menulis Mushaf yang Meruntuhkan Tradisi

Mengukir Sejarah, Membuka Batas: Kisah Menulis Mushaf yang Meruntuhkan Tradisi


Pernakah Anda membayangkan jika Al-Qur’an disusun oleh banyak sekali tangan terlatih berasal dari berbagai daerah negri cuma dalam waktu beberapa jam? Ini adalah cerita dibalik munculnya Mushaf Nusantara.


Tangan-tangan terlatih itu menggoreskan tinta pada lembaran kertas berukuran 100×70 cm, menciptakan desain indah dan tepat yang mempesona Menteri Agama Nasaruddin Umar. Adegan tersebut muncul di auditorium HM Rasyidi, Kementerian Agama Republik Indonesia, tempat pembuatan mushaf Nusantara diprakarsai oleh Lembaga Kaligrafi Al-Qur’an (Lemka) bekerjasama dengan Kemenag RI. Dalam proyek ini melibatkan 35 kaligrafer ahli dari Jakarta, Banten, serta bagian dari Jawa Barat.


Di waktu yang sama, di 29 provinsi lainnya, ratusan calligrafers juga melaksanakan kegiatan sejenis. Coba bayangkan, ada 365 caligrafers dari seluruh pelosok Indonesia menuliskan tinta untuk menciptakan satu juz Al-Quran dengan lebih dari 600 lembar halaman, semua itu diselesaikan dalam waktu kurang dari 10 jam!


Berkat prestasi tersebut, Museum Rekor Indonesia (MURI) juga telah mencatatkan dua rekornya secara bersamaan. Yang pertama adalah Mushaf Nusantara sebagai karya tulis paling banyak oleh berbagai penulis dan diselesaikan dalam periode singkat. Sementara itu, kedua, mushaf ini memiliki hiasan ilustratif Nusantara tertinggi, memperlihatkan 106 desain unik yang mewakili keragaman budaya dari seluruh 38 provinsi di tanah air kita.


“Pastinya ini merupakan karya monumental dari putera tanah air, dan kelak kaligrafipun dapat kita daftarkan sebagai hak kekayaan intelektual di UNESCO,” ungkap Menteri Agama sambil berseri-seri.


Dimulai dari Peringatan 40 Tahun Lemka


Segala sesuatunya dimulai pada saat spesial: perayaan empat puluh tahun lembaga kaligrafis Qur’an bernama Lemka. Sebagai ganti pesta rutinitas, Didin Sirojuddin AR selaku direktor Lemka beserta rombongan manajemen dan pendidik Pondok Kaligrafi Lemka di Sukabumi memutuskan untuk menciptakan hal “yang tak terlupakan” – suatu warisan yang akan diperingati sepanjang zaman. Ide ini kemudian melahirkan konsep penulisan Mushaf Al-Qur’an yang luar biasa.

Kaligrafer menuntaskan tahap terakhir penggarapan Mushaf Nusantara di Kantor Kementerian Agama Republik Indonesia, Jakarta, pada hari Rabu (19/3/2025). -(Republika/Thoudy Badai)


Awalnya, proyek ini bernama “Mushaf Lemka Nusantara”. Namun, demi menghindari kesan eksklusif, sekaligus sebagai sebuah persembahan untuk bangsa, kata “Lemka” direlakan. Jadilah nama yang lebih singkat; Mushaf Nusantara.


“Cara apa agar mushaf ini menjadi unik dibandingkan dengan mushaf-mushaf sebelumnya?” Ini adalah pertanyaan yang berulang kali muncul dalam pembicaraan mereka.


Jawabannya ternyata ada di depan mata: memanfaatkan kekayaan SDM kaligrafer alumni Lemka. Selama 40 tahun perjalanannya, Lemka telah melahirkan ribuan alumni berbakat —baik dari kursus kaligrafi di Fakultas Adab UIN Jakarta sejak 1986, lalu di masjid As-Salam Ciputat, Tangerang Selatan, maupun dari Pesantren Kaligrafi Lemka Sukabumi yang berdiri sejak 1998.


Diantaranya, sebagian besar telah meraih gelar juara dalam kompetisi kaligrafi bertaraf internasional serta memenangkan penghargaan di ajang MTQ Nasional kategori Kaligrafi. Ini merupakan sumber daya berharga yang selanjutnya digunakan untuk mengerjakan projek skala besar tersebut.


Selanjutnya, tampak angka 365, menggambarkan total hari dalam satu tahun. Yang menarik, jumlah kaligrafer antusias untuk bergabung justru melebihi angka tersebut. Saat daftar namanya lengkap, ditemukan sesuatu yang mencengangkan: kaligrafer-partisipan datang dari 30 propinsi di Indonesia—sesuai dengan jumlah hari dalam sebulan!




Hanya delapan propinsi yang tidak mengikutsertakan kaligrafternya, yakni Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Utara, serta keenam propinsi di Papua. Mengingat ada sebanyak 365 kaligraphers yang rela berpartisipasi, akhirnya timbul ide baru: menciptakan Mushaf Nusantara hanya dalam jangka waktu 10 jam!


” Ini merupakan peristiwa yang belum pernah terjadi sebelumnya di Indonesia dan bahkan di seluruh dunia. Proses penulisan mushaf biasanya membutuhkan waktu beberapa bulan. Namun, untuk mushaf Istiqlal ini proses pengerjaannya mencapai hampir lima tahun,” jelas Didin.


Tantangan selanjutnya timbul: bagaimana memastikan konsistensi standar penulisan ketika melibatkan ratusan penggaris tinta?


Berikut ini adalah dua alternatif solusinya. Yang pertama, para calon kaligrafer haruslah mereka yang paling tidak sudah pernah memenangkan kompetisi kaligrafi di tingkat propinsi atau setingkat itu. Hal tersebut bertujuan untuk menjaga kualitas tulisan tetap baik serta mencegah adanya kesenjangan pada output akhirnya.


Kedua, di tiap halaman mushaf yang bakal ditulis sudah tersedia gambaran awal menulis sesuai dengan pedoman Rasm Utsmani. Proses pembuatan gambaran ini dilakukan oleh 35 kaligrafis dari Lemka yang sebelumnya turut serta dalam penggarapan mushaf tersebut. Metode seperti itu memastikan bahwasanya walaupun ada beberapa orang yang melakukan penulisan, seluruh halaman masih mengikuti kaidah penulisan mushaf secara resmi.


Menggunakan Corak Khat Naskhi


Konsep untuk membuat Mushaf Nusantara ini muncul dari ide Kasubdit MTQ Kemenag RI, Rijal Ahmad Rangkuty saat berbincang dengan Tim Pengarah Mushaf Nusantara. Berbekal diskusi yang hangat tersebut, tak butuh waktu lama bagi Menteri Agama untuk memberikan dukungan total serta menjadi penyokong utama proyek ini. Bahkan, ia memposisikannya sebagai salah satu komponen penting dalam rangka menuju Festival Istiqlal III.

Kaligrafer merampungkan tahap akhir penggarapan Mushaf Nusantara di Kantor Kementerian Agama Republik Indonesia, Jakarta, pada hari Rabu tanggal 19 Maret 2025. -(Republika/Thoudy Badai)


Di tengah perjalanan, muncul usulan dari Dirjen Bimas Islam Kemenag RI; bagaimana jika mushaf ini ditulis dengan corak kaligrafi khas Indonesia, bukan dengan gaya Naskhi yang umum digunakan? Usulan yang tampak menarik pada awalnya —menghadirkan identitas lokal pada kitab suci.


Meski demikian, Direktur Lemka Didin menekankan bahwa kaligrafi mempunyai dua aspek penting: fungsi — agar dapat dibaca, dan estetika — untuk dekorasi. Kitab suci Al-Quran, yang setiap hari dibaca oleh umatnya, perlu memberikan prioritas pada sisi fungsional tersebut. Secara keseluruhan, masyarakat Muslim sudah sepakat bahwa jenis tulisan Naskhi —yang berarti “naskah” atau “teks”— merupakan satu-satunya gaya yang pantas digunakan dalam penyusunan mushaf.


Perjanjian ini bukan sesuatu yang diputuskan begitu saja, tapi merupakan produk dari suatu proses berkelanjutan selama lebih dari satu milenium. Pada awalnya, mushaf sempat dicoba menggunakan gaya tulisan Kufi berasal dari Kufah, akan tetapi ternyata tidak cocok lantaran menghabiskan banyak kertas hingga ribuan lembar apabila diimplementasikan dalam sebuah mushaf. Sehingga Khalifah Muawiyah dinasti Umaiyah memberikan instruksi untuk mencari desain yang lebih hemat namun masih menjaga identitas setempat.


Berdasarkan instruksi dari Muawiyah, dilakukanlah sebuah percobaan yang berlangsung selama ratusan tahun. Percobaan itu dimulai dengan variasi gaya Tulisan Tumarik, kemudian diikuti oleh pola Jali, Nisab, Tsuluts, Tsulutsain, sampai ke Muhaqqaq. Melalui proses penyelidikan yang cukup panjang, dunia Islam pada akhirnya berhasil mendapatkan solusinya. Gaya Naskhi ternyata menjadi pilihan paling tepat serta efisien untuk ditulis dalam mushaf Al-Quran, suatu konsensus yang masih tetap dipertahankan hingga saat ini.


Masalah lain yang muncul ialah kurang adanya satu gaya kaligrafi nusantara khas yang telah disepakati dan dibuktikan secara ilmiah serupa dengan pola Naskhi. Hingga saat ini, hanya beberapa variasi individu saja yang dikenal, misalnya seperti kaligrafi bergaya Syaifuli—gaya ini dinamai Demikian oleh Didin menghormati Syaiful Adnan, sang seniman kaligrafi keturunan Minang yang bermukim di Yogyakarta.

Kaligrafer telah menuntaskan tahap produksi Mushaf Nusantara di Kantor Kementerian Agama Republik Indonesia, Jakarta, pada hari Rabu (19/3/2025). -(Republika/Thoudy Badai)


Model ini dikenal dengan karakteristik rangkaian kakinya berbentuk seperti huruf ‘wawu’ atau ‘ra’, mirip tanduk kerbau. Walaupun mempesona, Didin menggarisbawahi bahwa “gaya Syaifuli sebaiknya diklasifikasikan ke dalam bidang estetika daripada fungsi praktis.”


Pilihan untuk menggunakan khat Naskhi dalam Mushaf Nusantara tidak bermakna meninggalkan karakteristik unik Indonesia. Malahan, hal itu merupakan suatu bentuk kesederhanaan—mengetahui kapan sebaiknya mengikuti praktik universal dan kapan pula perlu memperlihatkan ciri asli daerah setempat. Elemen-or namental Indonesianya masih tampak lewat proses pencahayaan atau dekorasi tepi yang istimewa, sedangkan bagian intinya tetap tertulis dengan gaya yang sudah lama diujicobakan sepanjang ratusan tahun.


Seperti halnya sebuah bangunan yang kuat, Mushaf Nusantara menunjukkan bahwa kita dapat menyatuakan landasan universal dengan hiasan lokal yang penuh arti, menciptakan suatu hasil yang memesona tanpa merugikan fungsinya sebagai rumah.


Pencerahan terkait simbol Bhinneka Tunggal Ika


Perlu dicatat, meskipun demikian, bahwa di dalam mushaf Al-Qur’an, iluminasi tidak hanya berfungsi sebagai dekorasi tepi untuk memperindah halaman saja. Tim Lemka sangat menyadari makna filosofis tersebut sejak tahap perencanaan awal Mushaf Nusantara.


Sebagaimana ungkapannya “to illuminate” yang artinya menyinar atau menerangi, iluminasi pada mushaf bertujuan untuk mempertegas—bukan mengecilkan—keberadaan ayat-ayat suci. Martin Lings menjelaskan dalam buku “The Quranic Art of Calligraphy and Illumination”-nya bahwa sebuah mushaf berkualitas perlu mencapai harmoni di antara aspek estetika visual dengan kemudahan membaca teks, serta seimbang antara elemen dekoratif dan tulisan. Keseimbangan tersebut terwujud melalui gabungan intelijensi dan imajinasi, sensitivitas seni, serta keahlian teknikal yang handal.


Untuk memperkuat sisi ini, Lemka sangat serius dalam menciptakan iluminasi untuk Mushaf Nusantara. Perusahaan tersebut menunjukkan kepercayaannya kepada Dr. Achmad Haldani, M.Sn—seorang spesialis iluminasi yang sebelumnya merancang Mushaf Istiqlal—dalam peran sebagai penasihat teknikal. Proses pembuatan desain, konversi ke format digital, serta prosedur pemberian warna melibatkan belasan hingga puluhan illuminators baik secara manual maupun dengan bantuan komputer; semuanya adalah santri ataupun mantan siswa dari Lemka yang sudah dibuktikan bakat mereka setelah menjadi juara di bidang kaligrafi nasional pada lomba Tilawah Quran (MTQ) dalam kategori Hiasan Mushaf atau Desain Interior. Kerjasama antara para profesional senior dan artis muda potensial ini berhasil membentuk sebuah iluminasi yang bukan saja memiliki tampilan estetika tinggi, namun juga sarat akan nilai-nilai mendalam.


Seperti halnya nama “Mushaf Nusantara”, lampu-lampu indah yang mempercantik tiap halamannya diciptakan untuk menunjukkan ide tentang persatuan dalam berbagai macam budaya Indonesia, menyampaikan semangat Bhinneka Tunggal Ika secara visual. Elemen kedaerhaan begitu mencolok pada desain hiasannya, dengan gambar-gamba rrepresentatif dari seluruh 38 provinsi negeri kita. Coba bayangkan saat Anda nanti membuka mushaf ini; setiap dekorasi, kurva dan garis, serta paduan warna akan bercerita tentang keberagaman budaya dari Sabang hingga Merauke, menjadikan al-Quran lebih cantik lagi dengan sentuhan seni Indonesia.

Kaligrafer telah menuntaskan tahap produksi Mushaf Nusantara di Kantor Kementerian Agama Republik Indonesia, Jakarta, pada hari Rabu tanggal 19 Maret 2025. -(Republika/Thoudy Badai)


Setelah proyek pencahayaan selesai, ditemukan 106 pola unik yang mempercantik Mushaf Nusantara. Ini menunjukkan bahwa tiap provinsi menyumbangkan antara tiga sampai empat motif lokal. Misalkan dari Jawa Barat, kita temui pola Batik Kujang, Mega Mendung, dan Wadasan yang sangat mencerminkan ciri khas suku Sunda. Di sisi lain, dari Sulawesi Utara tampak motif Cakalang, Tinutuan, Manguni, serta Kawung Manado.


Keanekaragaman desain pada karya ini tak hanya berupa rangkaian pola dekoratif biasa, melainkan merupakan representasi visual dari kebudayaan Indonesia yang disajikan dengan penuh kasih sayang terhadap tanah air. Dengan pencahayannya, Mushaf Nusantara bukan semata-mata membawa ayat-ayat suci Allah, namun juga mencerminkan kecantikan Indonesia—merupakan sebuah karya seni yang menyatukan esensi spiritualisme Islam dengan warisan budaya lokal dalam keserasian yang luar biasa.


Mendobrak Kevakuman Tradisi


Rekor sebagai penulis paling banyak yang dicatat oleh Mushaf Nusantara menunjukkan sebuah fakta penting: Indonesia telah menciptakan ratusan kaligrafer dengan kemampuan berskala global. Bukan hanya ahli lokal, tetapi juga juara sering kali mengalahkan pesaing-pesaing dari wilayah Timur Tengah pada kompetisi-kompetisi kaligrafari Arab di negara-negara asal tulisan-tulisan tersebut. Geografisnya berada di luar pusat peradaban Arab namun berhasil melebihi mereka dalam bidang seni kaligrafi ini! Di antara 16 ajang perlombaan kaligrafi tingkat dunia yang beberapa diantaranya digelar di Timur Tengah, Turki serta Iran; saat ini kaligrafer- Kaligrafer Indonesia selalu menjadi dominator. Sebagian besar daripada mereka merupakan alumnus Lemka.


Kehadiran Mushaf Nusantara ini mirip dengan menyadarkan kembali tradisi para seniman Muslim zaman dahulu yang menunjukkan kasih sayang mereka kepada Al-Qur’an lewat penggambarannya dalam mushaf. Pasca periode dimana teknologi pencetakan dan komputer mendominasi, sepertinya budaya menulis mushaf telah dilupakan. Sejak peresmian Mushaf Istiqlal oleh Presiden Soeharto kurang lebih tiga dekade yang lampau (1995), cuma segelintir naskah suci seperti Mushaf At-Tin dan Mushaf Sundawi saja yang diperkenalkan, kemudian ada jeda panjang tanpa adanya perkembangan lainnya. Mudah-mudahan, Mushaf Nusantara akan merangsangkan semangat kreatif generasi penerus kita agar menciptakan banyak mushaf baru dengan variasi gaya tulis serta pola ilustrasinya yang unik.


Tentu saja, menganjurkan kebiasaan menulis mushaf sejak usia dini harus digalakkan secara luas bagi para santri di pesantren serta siswa madrasah. Sejauh ini, kurikulum pengajaran Al-Qur’an cenderung lebih fokus pada keterampilan membaca.
tilawah
dan
tahfidz
). Sebenarnya di dalam Al-Qur’an, terdapat perintah untuk membaca (
iqra
‘) juga disertai dengan perintah untuk menulis (‘
alladzi ‘allama bil qalam
). Menulis Al-Qur’an tidak hanya meningkatkan kemampuan tangan, tetapi juga membina kesabaran, kehati-hatian, serta hubungan yang lebih dekat dengan kitab suci Allah.


Seiring berjalannya waktu, rasa cinta terhadap membaca dan menulis Al-Qur’an dapat memupuk kesadaran estetika serta ketelitian spiritual dalam diri para pemuda. Secara alami, seni kaligrafi dan ilustrasi kitab suci pun bisa menyuguhkan tampilan “Islam sebagai warisan budaya” yang lebih tenang, segar, dan memesona; hal ini bertolak belakang dengan “gambaran Islam politik” yang sering kali tampak agresif dan umumnya mendominasi arena publik kita saat ini. Bukan begitu pula makna dari nasihat Nabi yang mengatakan bahwasanya Tuhan adalah Yang Mahamerdu dan sangat mencintai kemerduan?


Dengan Mushaf Nusantara, kita disadarkan akan Islam yang tak sekadar menjadi bagian dari pembicaraan politik atau perselisihan teologis serta perkembangan hukum syariah, tetapi juga terwujud melalui tulisan-tulisan indah yang membingkai halaman-halamannya, menyajikan ketenangan bagi hati dan meredam pikiran.


Wallahu a’lam bi as-shawab

Dukung Anak Mengenal Potensi Mereka: Verrell Bramasta Perkenalkan Talent DNA di Sekolah Bekasi

Dukung Anak Mengenal Potensi Mereka: Verrell Bramasta Perkenalkan Talent DNA di Sekolah Bekasi


JAKARTA, Lifehack My ID

Aktor Verrrell Bramasta mencalonkan diri di salah satu daerah pemilihan yang ada di Bekasi.

Belum lama ini, Verrell mengunjungi beberapa sekolah di wilayah Bekasi guna mempromosikan Talent DNA. Sekolah-sekolah tersebut meliputi SMAN 3 Babelan, SMAN 1 Tambun Utara, serta SMK Bina Jaya Prestasi.

Verrell mendukung para murid di sekolah tersebut dalam menemukan dan memahami kekuatan serta kemampuan mereka lewat pendekatan Talent DNA.

“Pendidikan merupakan kuncinya untuk menghasilkan anak muda yang berkualitas,” demikian ungkap Verrell pada pernyataan persnya, Minggu (23/3/2025).

“Melalui program ini, tujuanku adalah agar pemuda memiliki kesempatan untuk mengenali kemampuan dan ketertarikan mereka, supaya dapat memilih jalur yang paling tepat,” tambahnya.

Verrell menyebutkan bahwa para murid laki-laki dan perempuan yang sangat bersemangat ketika menghadiri sosialisasi Talent DNA.

Dia menginginkan bahwa lewat sosialiasi ini dapat memacu perkembangan sistem pendidikan yang lebih baik.

Verrell menegaskan keinginannya untuk memastikan bahwa pendidikan di Bekasi tetap berkembang, serta generasi muda kita dapat mengakses teknik pengajaran yang paling efektif.

“Langkah ini dapat membuka jalan untuk mengembangkan sistem pendidikan yang lebih menekankan pada kemampuan individu, agar para pemuda di Bekasi dapat tumbuh dan berkembang sebagaimana mestinya sesuai dengan keahlian mereka,” ungkap Verrell.

Proyeksi ini pun bisa meminimalisir perbedaan antara keinginan siswa dengan bidang studi atau pekerjaan yang nantinya dipilihnya.

Verrel bersumpah akan melaksanakan tugas secara praktis dengan terus mengunjungi lokasi meskipun telah diangkat sebagai anggota DPR.

Terlebih lagi momen tersebut bersamaan dengan bulan Ramadhan.

Menurut Verrell, dia yakin bahwa tugas sebagai anggota DPR tidak hanya terkait dengan berbicara di ruangan sidang, tetapi juga berkaitan erat dengan kehadiran langsung di antara rakyat, menyaksikan serta mengetahui secara pribadi akan keperluannya.

Bukan hanya melalui kegiatan sosialiasi Talent DNA, Verrell juga mencuri perhatian karena ikut secara aktif membantu para korban yang terkena dampak banjir di Bekasi. Selain itu, dia pun mensupport proyek pembangunan masjid dan sekolah.

Ribuan Warga Desa Ini Tak Perlu Berbuat Banyak, Hanya dengan Tenang Nikmati THR Lebih dari Biasa

Ribuan Warga Desa Ini Tak Perlu Berbuat Banyak, Hanya dengan Tenang Nikmati THR Lebih dari Biasa

Lifehack Kartu Identitas, KLATEN — Di akhir bulan Ramadhan menjadi kesempatan untuk meningkatkan kebiasaan berbelanja. Barang-barang yang menarik dan dapat memperbaiki penampilan di hari raya Idul Fitri akan dipertimbangkan untuk dibeli.

Walaupun ada peribahasa yang menyebut bahwa Lebaran tidak hanya tentang orang-orang berpakaian baru, melainkan juga yang kesalehan mereka meningkat, namun masih banyak orang yang memprioritaskan memiliki pakaian baru saat hari raya tersebut.

Habit ini mendorong banyak orang untuk berjuang ekstra dalam mendapatkan tunjungan hari raya (THR). Berbagai metode digunakan untuk mencapainya, seperti menyusun proposal, memohon dengan sopan, menggunakan kekerasan, bahkan sampai melakukan tindakan tercela pada orang lain. Hal tersebut sungguh sangat disayangkan.

Meski demikian, ada sesuatu yang mengundang minat di Desa Wunut, Klaten, Jawa Tengah. Sama seperti beberapa tahun lalu, desa tersebut kembali menyediakan Tunjangan Hari Raya (THR) bagi penduduk lokal dengan Kartu Tanda Penduduk (KTP) dari Wunut. Tinggal menunggu saja tanpa harus bersusah payah atau melakukan tindakan kurang pantas hanya demi mendapatkan THR.

Kepala Desa Wunut Iwan Sulistya Setiawan mengatakan bahwa terdapat 2.289 individu yang mendapatkan Tunjangan Hari Raya (THR) pada tahun ini, dengan jumlah per orang senilai Rp 200.000. Dia menyebutkan, “Kemarin tim kami telah mendistribusikan dana THR secara keseluruhan mencapai Rp 457.800.000.”

Di samping itu, sebelumnya desa telah menyediakan bantuan senilai Rp 600.000 per individu bagi warga tidak mampu. Jumlah penerimanya mencapai 200 orang secara keseluruhan.

Komitmen desa dalam menggunakan pendapatan ini didasarkan pada niat saling memberikan kepada warganya. Pemdes Wunut mengakui betul bahwa modal awal dari danadesa yang digunakan untuk memajukan pariwisata Umbul Pelem seharusnya dikembalikan demi kesejahteraan rakyat setempat.

“Memang itu adalah dukungan dari pemerintah, sehingga kita perlu memanfaatkannya semaksimal mungkin bagi kepentingan warga,” ujarnya.

Sebelum dipindah keluar, menurut hukum Islam, desa tersebut berjanji untuk membersihkan pendapatan dengan menyumbangkan 2,5% dalam bentuk Zakat yang akan didistribusikan kepada warga tidak mampu.


Di luar premi jaminan sosial dan uang lembur hari raya (THR), bagian dari penghasilan ini juga dialokasikan untuk pembayaran gaji honorer kepada guru TPA yang bertugas di wilayah tersebut. Tambahan lagi, para guru TPA memiliki hak pula atas penerimaan THR.

Sebab Desa Wunut memajukan penduduknya

Untuk penduduk Solo dan daerah sekitarnya, pastinya sudah tidak asing lagi dengan Umbul Pelem yang terletak di area wisata Janti, Kecamatan Tulung, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah.

Pertama-tama, Umbul Pelem ini adalah sebuah sumber mata air yang populer di kalangan remaja lokal sebagai destinasi berenang. Sementara itu, area sekitarnya umumnya digunakan untuk bercocok tanam sayuran air seperti selada air.

Meskipun demikian, berkat penggunaan anggaran desa senilai Rp2,4 miliar, sumber air alami itu kini telah diubah menjadi destinasi wisata yang lebih atraktif dan diberi nama Umbul Pelem Water Park.

Kepala Desa Wunut mengatakan proses pengembangan tempat wisata tersebut dimulai pada tahun 2016 sampai dengan 2021.

Dengan modal tersebut, omzet dari Umbul Pelem yang ditangani oleh BUMDes Sumber Kamulyan kini telah menembus angka Rp26 miliar.

Walaupun hanya pada skala desa, komitmen pemerintahan desa serta Badan Usaha Milik Desa pantas untuk dihargai karena telah mengelola pendapatan besar secara profesional.

Iwan mengatakan bahwa terdapat anggaran dasar untuk keperluan keluarga yang telah disetujui melalui musyawarah desa.

Desa juga bertekad meningkatkan kesejahteraan penduduknya dengan mengalokasikan dana itu, di antaranya melalui pembiayaan jaminan sosial seperti BPJS Kesehatan dan BPJS Ketenagakerjaan bagi masyarakat yang belum dilindungi pihak lain.

Untuk BPJS Ketenagakerjaan, tiap warga mendapatkan pembayaran premi untuk tiga program yaitu perlindungan atas risiko kematian, asuransi terhadap kecelakaan saat bekerja, serta dana pensiun.

Untuk BPJS Kesehatan, setiap warga mendapatkan pembayaran premi untuk layanan tingkat III.


Tiap tahun, desa itu mengalokasikan anggaran senilai Rp624 juta untuk membayar premi BPJS Ketenagakerjaan, sementara untuk BPJS Kesehatan jumlahnya mencapaiRp264 juta.

Di samping itu, terdapat juga anggaran dana sosial yang digunakan untuk bantuan kepada masyarakat tanpa kepesertaan BPJS Ketenagakerjaan. Bila mereka meninggal dunia, akan mendapatkan bantuan sebesar Rp10 juta.

Apabila Anda memiliki BPJS Ketenagakerjaan, desa akan menangani proses pengklaiman dana jaminan kematian (JKM) berdasarkan pada aturan yang berlaku.

Pengembangan

Walaupun saat ini hanya bergantung pada penghasilan dari Umbul Pelem Water Park saja, Desa Wunut berkomitmen kuat untuk memaksimalkan sumber daya yang tersedia.

Muhlisin, Sekretaris BUMDes Sumber Kamulyan, menyebut bahwa berkat adanya sumber air alami, Umbul Pelem kini memiliki satu kolam dewasa sekaligus dengan kedalaman antara 1,5 sampai 2 meter serta dua buah kolam khusus anak yang sudah dilengkapi dengan waterboom.

Di samping itu, tersedia juga kolam terapi ikan, area bermain di bawah salju, Pelem Resto, gazebo, serta tempat outbound.

Pada waktu normal, sekitar 200 hingga 400 orang mengunjungi tempat tersebut setiap harinya. Di sisi lain, pada hari Sabtu-Minggu serta tanggal merah, angka kunjungan dapat meningkat drastis menjadi 5.000 orang.

Harga tiket pun berbeda-beda. Apabila pada hari biasanya ditoko seharga Rp8.000 per orang, maka pada hari Sabtu, Minggu, dan hari libur naik menjadi Rp10.000 per orang.

Meski selama liburan Idulfitri mendatang tempat wisata itu akan tetap terbuka. Dilihat dari Hari Pertama Idulfitri beberapa tahun lalu, jumlah kunjungan berkisar antara 1.000 hingga 1.500 orang, sementara untuk Hari Kedua Idulfitri, jumlah pengunjung mencapai kira-kira 3.000 jiwa.

“Titik puncaknya umumnya tercapai pada hari ketiga, dengan jumlah mencapai hingga 8.000 orang jika melihat data dari tahun lalu,” jelasnya.

Pada saat ini, pendapatan rata-rata untuk BUMDes yang dikendalikan melalui objek wisata itu berkisar antaraRp400juta per bulan.

“Lebih dari Rp6 miliar untuk tahun 2024, dan ini hanya untuk satu destinasi pariwisata saja,” ujarnya.

Agar dapat memanfaatkan sumber daya alam yang tersedia, Desa Wunut berencana meluncurkan objek wisata baru yaitu kolam renang Umbul Gede khusus untuk wanita Muslimah menjelang akhir tahun ini.

Mirip seperti Umbul Pelem, kelak di Umbul Gede akan ditambahkan fasilitas berupa objek wisata air, restauran, serta waterboom.

Agar tempat wisata tetap menyenangkan bagi tamunya, pihak manajemen dengan senang hati menerima saran dari para pengunjung. Karena alasan ini, berbagai ide baru diterapkan selama fase perbaikannya guna merespons setiap kritik dan usulan.

Inovasi yang telah direalisasikan di Desa Wunut dalam menggunakan anggaran desa untuk mengatur sumber daya alam serta memberdayakan hasilnya bagi kemakmuran penduduk setempat pastinya dapat menarik perhatian dan sebaiknya dicontoh oleh desa-desanya negara kita. Hal ini pun membantu warga menjadi lebih otonom melalui pemanfaatan kekayaan yang ada di lingkungan tempat tinggal mereka sendiri.

13 Stunning Must-Visit Places in Dalat – International Edition (English)

13 Stunning Must-Visit Places in Dalat – International Edition (English)

Referred to as the “City of Eternal Spring,” Dalat presents a distinctive mix of charming scenery, historical buildings from its colonial past, thrilling outdoor activities, and bustling marketplaces.


1. Xuan Huong Lake – at the core of Dalat

Xuan Hue Lake stands as the focal point of Dalat, offering an oasis within the urban setting. Shaped like a half-moon, this picturesque body of water is encircled by pine woods, floral gardens, and quaint coffee shops, turning it into a preferred destination for unwinding and recreational pursuits. Tourists have the option to run along its paths, ride bicycles, or hire paddle boats designed like swans for 50,000 Vietnamese Dong (approximately $2 USD) each hour. Ideal moments to explore include dawn, with mists lingering above the surface which lend a surreal ambiance, and dusk, where the waters mirror the amber tones of the final rays of sunshine. Numerous cafes line the shores, providing spots to relax and savor Dalat’s renowned artichoke tea amid serene vistas.


2. Dalat Flower Garden – a paradise of hues

Da Lat, known as Vietnam’s flower hub, hosts the expansive Da Lat Flower Garden spanning across 7,000 square meters with over 300 varieties of blooms. Founded in 1966, this meticulously designed garden displays a colorful array including roses, orchids, tulips, and hydrangeas that flourish throughout the year. For those planning their trip around special events, visiting between December or January would coincide perfectly with the biennial Da Lat Flower Festival, turning the town into a stunning floral spectacle. Admission costs only VND50,000 ($2), offering visitors both beauty and value. Strolling among these blossoms allows guests to capture memorable photos at the fountain areas and perhaps purchase some potted flora or seeds as keepsakes from your journey.


3. Langbiang Mountain – the pinnacle of Dalat

A man is standing atop a summit in the Langbiang mountain range. Photographed by Tran Viet Anh.

At 2,167 meters tall, it stands as the tallest peak in Dalat, providing breathtaking vistas of the Golden Valley, Silver River, and Dankia Lake. Tourists have the option to either embark on a two-hour trek through lush pine woods or opt for a jeep tour costing VND100,000 ($4) per individual to ascend to the top. For those seeking an adrenaline rush, paragliding services are provided, enabling visitors to glide above the magnificent scenery. This majestic location is rich with tales recounting the sorrowful romance of Lang and Biang, imbuing the site with an enchanting mystique.


4. Tea plantations – a peaceful retreat

A section of the Cau Dat tea hills featuring blooming peach trees in Da Lat during spring 2025. The photograph was taken by Nguyen Ngoc Son.

Dalat is famous for its verdant tea gardens, notably those found in Cau Dat, which lies about 25 kilometers away from the city center. The sweeping emerald slopes make this area perfect for taking photos and unwinding.

Guests have the opportunity to discover the art of tea production, taste freshly brewed oolong and green teas, and enjoy a tranquil ambiance. The early morning fog adds a magical touch, rendering this location essential for both nature aficionados and those passionate about tea.


5. Wildhouse – a marvel of architecture

Visitors at the Crazy House in Da Lat. Image captured by Hong Ha

The Crazy House, also recognized as Hang Nga Guesthouse, stands out as an exceptionally distinctive and fanciful architectural marvel in Vietnam. Continuously developing over time, this captivating site exudes a magical aura reminiscent of a storybook setting, drawing visitors into its surreal artistic and structural landscape.

Created by Vietnamese architect Dang Viet Nga, this whimsical building looks like an enormous tree featuring winding stairwells, labyrinthine corridors, and fantastical animal-decorated chambers. Every room boasts a distinct motif—such as the Kangaroo Room, Tiger Room, and Bear Room—and incorporates elements inspired by natural forms.

The entry fee is VND60,000 ($2.50), and prices for staying overnight vary between VND1,000,000 to VND2,000,000 ($39-$78).


6. St. Nicholas Cathedral – a window into Dalat’s French legacy

St. Nicholas Cathedral in Dalat. Image captured by Phong Vinh.

Commonly referred to as either the Dalat Cathedral or Chicken Church, St. Nicholas Cathedral stands out as a remarkable example of French colonial architecture from the early 1900s. Its design features European influences with elegant stained glass windows and a tall spire that contribute to making this site among Da Lat’s most captivating religious attractions. Today, it continues to serve as a significant spiritual center for worshippers while also inviting tourists to admire its rich history and serene atmosphere.


7. The Domaine de Marie Church – a stunning pink jewel of architecture

Church of Domaine de Marie in Dalat. Photograph by Thanh Tuyet

Yet another stunning church, Domaine de Mariem stands out due to its eye-catching pink exterior and the harmonious fusion of French and Vietnamese design elements. Constructed during the 1940s, this place of worship boasts Euro-inspired arched windows, an unmistakable triangular rooftop, and a modest yet delightful interior filled with spiritual relics.

Situated atop a hill, this location provides sweeping vistas of Dalat, perfect for contemplation and capturing photos. Additionally, the church houses a convent where guests can gain insight into the charitable activities undertaken by the nuns, who assist orphaned children and underprivileged groups in the area.


8. Datanla Waterfall – an exciting blend of adventure and natural splendor

A lady participates in a canyoning excursion at Datanla Waterfall in Dalat. Picture taken by Thanh Hang.

Located just five kilometers away from downtown Dalat, Datanla waterfall stands out as one of the region’s most exciting attractions. What sets this natural wonder apart is its alpine coaster system; instead of undertaking lengthy hikes like at many other waterfalls, tourists can enjoy a heart-pounding descent via an adventurous track running through dense woods until they arrive at the cascading waters below. The cost for riding the coaster ranges between 80,000 Vietnamese Dong to 150,000 Vietnamese Dong (approximately $3-$6), varying with distance covered. For those who prefer breathtaking aerial vistas without leaving their seats, a cable car provides panoramic glimpses of the nearby mountainous landscape. Thrill enthusiasts might also consider activities such as canyoneering and rappelling, which further cement Datanla’s status among adrenaline junkies as a must-visit spot.


9. Valley of Love – an idyllic retreat for romance

First established by the French in the 1930s, the Valley of Love stands as one of Dalat’s most enchanting and romantic spots. Nestled among verdant hills, vibrant floral landscapes, and calm waters, this locale attracts numerous lovers and newlyweds seeking respite. Tourists have the option to glide across the lake with a swan-shaped paddleboat for VND70,000 ($2.75) per hour, hire a steed or opt for a leisurely horse-drawn cart journey at VND150,000 ($6), providing them with a storybook atmosphere. Scenic pathways crisscross through the area, leading visitors to breathtaking vistas over the peaceful rural expanse.


10. Dalat Night Market – a paradise for food enthusiasts

To experience the local nightlife, head over to the Dalat Night Market. This bustling spot features numerous street food vendors along with souvenir and craft stores. Don’t miss out on trying their signature dishes at these stands.
banh trang nuong
A crispy grilled rice paper treat priced at VND20,000–30,000, a warming sweet soup costing VND15,000, along with freshly made soy milk and strawberries available for VND10,000–20,000 per portion can be found here. Additionally, this marketplace offers a variety of items such as woolen scarfs, handmade trinkets, and dried fruits, which makes it perfect for those seeking culinary delights as well as keepsakes.


11. Bao Dai’s Summer Palace – a regal getaway

The ancient palace served as the summertime residence for Vietnam’s final emperor, Bao Dai. This structure, influenced by Art Deco design, offers insights into regal living through its period-appropriate furnishings, refined decorations, and breathtaking vistas of Da Lat. Tourists have the opportunity to wander through the chambers, appreciate imperial relics, and gain knowledge about Vietnamese history. Access costs VND40,000 ($1.60) per person.


12. Elephant Falls – A Majestic Natural Wonder

Situated 30 kilometers away from Dalat lies the Elephant Waterfall, renowned for being one of the mightiest and most spectacular falls in the area. This waterfall gets its name from a rock formation shaped like an elephant and stands at a height of 30 meters. It becomes particularly awe-inspiring during the wetter months when the volume of water surges dramatically. Visitors can reach the foot of the fall via a rugged path designed for hikers, allowing them to experience the cool spray up close as well as capture memorable photographs. Nearby, the Linh An Pagoda offers another highlight with its colossal gilded statue of a jovial Buddha. To access these attractions, tourists will be required to pay an entry fee equivalent to VND20,000.


13. Dalat Railway Station – a historic treasure

Dalat Railway Station. Image captured by Phu Dung

Constructed during the 1930s, Da Lat Railway Station stands as one of Vietnam’s earliest and most picturesque rail hubs, notable for its distinct French colonial style featuring a sharp, triangular roof reminiscent of the customary longhouses found in the Central Highlands region. This station retains much of its original charm through elements such as preserved stained-glass windows, classic ticket booths, and old-fashioned steam engines that evoke an atmosphere from times past.

Although it no longer handles distant journeys, the station runs a brief but picturesque train trip to Trai Mat village. This allows travelers to savor the rural landscapes, dense pine woods, and vibrant floral areas. Upon arrival at their destination, guests have the opportunity to visit Linh Phuoc Pagoda, renowned for its elaborate mosaics crafted from discarded pieces of porcelain and glass.

Login Required

Please log in to add tours to your wishlist.

Log In