by admin | Apr 2, 2025 | government, political debates, politics, politics and government, politics and law
The
All Progressives Congress (APC)
Babatunde Sobowale, who is seeking leadership for the Ayobo-Ipaja Local Council Development Area (LCDA), has organized a Ramadan lecture.
At the gathering, speakers motivated attendees to engage actively in political endeavors.
Sheikh Yunus Jamiu, from Mufti Diyaar of Alimosho, emphasized using power and authority for fulfilling God’s will.
As per his view, the concept of leadership within Islam began with the arrival of Prophet Muhammad, who advised his companions to always select a leader whenever they embarked on a journey.
The prophet merged within himself the roles of emissary, political leader, and military chief, much as we see today. It is attributed to Prophet Muhammad that he stated: ‘Whoever follows their leader has followed me, Muhammad, and whoever disobeys their leader has disobeyed me, Muhammad.’
Sheikh Jamiu highlighted certain criteria for selecting leaders, including “choosing according to an Islamic viewpoint, demonstrating mercy, showing benevolence, possessing the wisdom to guide others, maintaining fairness and justice, and beingmale.”
Host Tunde Sobowale expressed his gratitude to God for bringing the event to fruition.
He mentioned that the purpose of the meeting was to enlighten Muslim attendees about topics such as “Islam and Politics” and “The Importance of Continuous Charity.”
“This public Ramadan lecture is unprecedented for TS projects and is here to remain, God willing,” he stated.
Sheikh Sulaimon Ibrahim stated that Zakat is an essential part of Islam, designed to cleanse one’s finances and promote support from the affluent to those in need.
He mentioned that items eligible for Sadaqah encompass edibles, monetary donations, and extending compassion to those who are underprivileged.
Provided by Syndigate Media Inc. (
Syndigate.info
).
by admin | Mar 27, 2025 | political debates, political science, politics, politics and government, politics and law
As political alliances shifted leading up to the 2027 general elections, Ralph Nwosu, who serves as the National Chairman of the African Democratic Congress (ADC), mentioned that over the last year, he hasn’t encountered Peter Obi, the presidential nominee for the Labour Party.
Speaking to journalists in Abuja at the 97th National Executive Committee (NEC) meeting of the ADC, Nwosu stated that if Obi values what the party is doing and wishes to join them, they would be more than happy to welcome him with open arms.
When asked about alliances with other parties, Nwosu revealed that the ADC is holding discussions with the People’s Redemption Party (PRP) as well as various civil society groups.
At the NEC meeting, the ADC Chairman commented, “One of our resolutions aims to establish ‘the handshake’ as a nationwide tradition in Nigeria by October 1st. This custom will be observed in each of the country’s 36 states.”
The second resolution states that according to one of our guidelines, you must be part of the ADC party for at least two years before being able to contest an election within the organization. However, due to many individuals advocating for more flexibility, we are modifying this rule. If you decide to join ADC today, you will immediately become eligible to run for elections or take on a leadership role within the party without having to wait those two years. Therefore, we are adopting this new resolution which eliminates the waiting period requirement.
We have considered organizing a national convention as well. Some among us, including myself, do not plan to vie for the position of National Chairman this time around. My intention is not to seek office; instead, I wish to pass the torch to fellow Nigerians capable of rallying more than 80 million citizens. We aim to enter the upcoming political phase alongside regular Nigerians known for their integrity and lack of corrupt practices. These politicians will confront Nigeria’s challenges head-on and declare ‘enough is enough.’
Nwosu was asked whether he had met with Peter Obi. He replied, “In the last twelve months, I haven’t encountered Mr. Peter Obi; we can’t engage with him at this time. However, should he decide to observe what we’re undertaking after witnessing it firsthand—though our efforts aren’t geared toward politicians but rather towards uplifting Nigerians—I’m far more invested in the African Farmers Club, which boasts over ten million members. If his observation of ADC leads him to conclude ‘enough is enough’ and prompts him to want to align himself with us, then we would gladly extend an invitation to join forces—we welcome them all as our doors remain wide open.”
We are holding meetings with PRP and various civil society groups, these traditions of confronting Nigerians head-on and declaring that enough is enough, we will appeal to Nigerians to embrace us.
Provided by Syndigate Media Inc. (
Syndigate.info
).
by admin | Mar 23, 2025 | local news, news, political debates, politics, rumors
Lifehack My ID
Tokoh Herman Deru, Gubernur Sumsel, mengatakan bahwa warga Palembang merasa dihina setelah skandal konten Willie Salim.
Mengenai masalah yang dibahas oleh Willie Salim tentang 200 kg daging sapi yang menghilang ketika sedang diproses di BKB Palembang, Gubernur Sumatera Selatan, Herman Deru, juga memberikan komentarnya.
Herman Deru menyampaikan bahwa masyarakat Palembang tidak melakukan kesalahan saat suatu kegiatan pengajian yang direkam dan diposting di akun Instagram @oypalembang pada hari Sabtu.
Dia mengatakan bahwa sang pengaruh Willie Salim dengan sengaja membuat konten itu untuk meraup keuntungan finansial.
Apakah kita yang keliru? Tidak, memang dia sengaja melakukan itu, dan hal tersebut jika diamati oleh anak-anak di bawah umur akan mereka anggap sebagai sesuatu yang tepat.
“Padahal dia adalah seseorang yang mencari nafkah,” ungkap Herman Deru pada hari Sabtu (22/3/2025), sebagaimana dilaporkan oleh Tribun Sumsel.
Herman Deru menyebut, warga Palembang merasa dihina akibat unggahan itu.
Meski begitu, ia tidak menyalahkan warga Palembang yang sudah mengambil rendang saat itu.
“Dipermalukanlah kami, sehingga jika saya di sini sebagai orang yang tak memahami situasi ini, maka saya pun tidak akan menyalahkan saudara-saudaraku yang terlibat,” tegasnya.
Sebelumnya, Willie sudah mengungkapkan permohonan maafnya kepada masyarakat Palembang setelah videonya memasak sebanyak 200 kilogram daging rendang menjadi viral.
Willie Salim menyampaikan permintaan maafnya melalui postingan di akun Instagram miliknya, @willie27_.
“Saya meminta maaf untuk seluruh warga Palembang yang tersakiti.”
“Gara-gara rendang viral, banyak narasi yang tidak enak terhadap warga Palembang,” kata Willie dalam video yang dilihat Kompas.com, Sabtu.
Willie juga mengakui bahwa dirinya tidak cukup persiapan ketika menyiapkan daging rendang sebanyak 200 kilogram.
Di samping itu, remaja tersebut juga menyatakan bahwa ia baru pertamakali memasak dalam jumlah besar untuk sekelompok orang yang banyak.
Sungguh, ini bukan kesalahan warga Palembang, melainkan kesalahanku sendiri.
“Karena saya kurang persiapan, mohon maaf saya pertama kali masak untuk orang sebanyak itu,” ujarnya.
Namun begitu, Willie juga mengatakan bahwa ia tidak mempersoalkan insiden itu.
Dia terkejut menyaksikan semangat masyarakat Palembang yang hadir di area BKB ketika acara sedang berlangsung.
Aku justru merasa gembira melihat semangat penduduk setempat, sebab pada dasarnya rendang tersebut dimasak dengan tujuan untuk dibagi kepada masyarakat.
“Sungguh, saya terkejut dengan semangat masyarakat yang sangat tinggi,” katanya.
Video Willie yang mengatakan tentang hilangnya 200 kilogram rendang ketika memasak di Palembang, pernah disalahartikan sebagai rekayasa untuk menarik banyak penonton.
Sebab, banyak warga yang menduga bahwa Willie sengaja meninggalkan BKB agar masyarakat berebut mengambil rendang karena proses memasak membutuhkan waktu yang panjang.
Saya tidak mengatur semuanya, saya cuma tak menduga dan meremehkan kemungkinan itu terjadi. Itulah kesalahan bodohnya saya.
“Harap jangan menyalahkan penduduk Palembang. Apabila saya memasak lebih cepat dan dengan persiapan yang lebih baik, kejadian itu tidak akan terjadi,” ujar dia.
Profil Herman Deru
Herman Deru merupakan sosok politisi yang dikenal luas di Sumatera Selatan, dengan karier panjang yang didedikasikan untuk memajukan provinsi ini.
Bersama Cik Ujang, ia kembali maju sebagai pasangan calon Gubernur dan Wakil Gubernur Sumatera Selatan dalam Pilkada 2024.
Pasangan Herman Deru-Cik Ujang menjadi paslon pertama yang resmi mendaftar pada Selasa, 27 Agustus 2024, dengan dukungan dari enam partai politik besar, yakni Partai Nasdem, Partai Demokrat, Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Partai Perindo, Partai Bulan Bintang (PBB), dan Partai Solidaritas Indonesia (PSI).
Herman Deru bukanlah figura pemula dalam lingkup pemerintahan Sumsel.
Berdasarkan informasi dari TribunSumsel.com, Herman Deru dilahirkan di Belitang OKU Timur pada tanggal 17 November 1967.
Perjalanan politiknya dimulai sebagai Bupati Ogan Komering Ulu Timur, di mana ia memimpin selama dua periode, dari tahun 2005 hingga 2015.
Selama masa kepemimpinannya, Herman Deru membawa banyak perubahan signifikan, terutama di bidang pembangunan infrastruktur dan kesejahteraan masyarakat.
Filosofi kepemimpinannya yang mendorong pembangunan merata membuatnya dicintai masyarakat OKU Timur dan mendapat kepercayaan luas dari rakyat.
Prestasinya di tingkat kabupaten menjadi batu loncatan bagi Herman Deru untuk maju ke tingkat provinsi.
Di tahun 2018, dia sukses menang dalam pemilihan kepala daerah untuk Provinsi Sumatera Selatan dan terpilih menjadi Gubernurnya bersama Mawadi Yahya yang menjadi waktunya.
Kemenangan ini diperoleh dengan dukungan 35,54 persen suara, menunjukkan antusiasme masyarakat Sumsel terhadap visi dan misinya dalam memajukan provinsi tersebut.
Sebagai Gubernur, Herman Deru fokus pada pembangunan infrastruktur, peningkatan layanan kesehatan, dan perbaikan kualitas pendidikan di Sumatera Selatan.
MElansir Tribunnewswiki, H. Herman Deru, SH., MM merupakan Gubernur Sumatera Selatan periode 2018-2023 dan 2025-2030.
Herman Deru lahir di Sidomulyo, Kecamatan Belitang Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) Timur, 17 November 1967.
Herman Deru lahir saat order baru sedang berjaya, jadi ayahnya memberi nama Herman Deru yang berarti lahir di zaman orde baru
Motto Herman Deru adalah “kerja 25”, yang berarti dua hari bekerja di kantor dan lima hari menghabiskan waktu di lapangan.
Ini telah ia lakoni sejak menjabat sebagai Bupati OKU Timur untuk dua masa jabatan yaitu dari tahun 2005 hingga 2010 dan 2010 sampai 2015.
Saat ini dia menjabat sebagai Gubernur Sumsel dan terus melaksanakan tugas itu sampai saat ini.
Herman Deru pada masa lalunya sempat bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) untuk Pemerintah Daerah Sumatera Selatan di Dinas Pendapatan Daerah. Ia kemudian mengajukan pengunduran diri dengan penuh hormat pada tahun 1998 karena keinginannya sendiri.
Herman Deru melanjutkan studinya di SD Negeri I Sidomulyo Belitang dan lulus pada tahun 1979.
Selanjutnya dia menempuh pendidikan di SMP Negeri I Belitang dan lulus pada tahun 1982. Kemudian ia meneruskan studinya di SMA Negeri 3 Palembang pada tahun 1985.
Setelah itu, Herman Deru mengejar pendidikan tinggi di Fakultas Hukum Universitas Shakyakirti Palembang hingga berhasil mendapatkan gelar pada tahun 1995. Ia kemudian meneruskan studinya untuk meraih gelar Master dengan mengambil program S2 dalam bidang Manajemen di STIE Trisna Negara Belitang dan lulus pada tahun 2008.
Herman Deru menikah dengan Hj. Febrita Lustia, yang dilahirkan pada tanggal 20 Februari 1967 di kota Palembang.
Dalam pernikahannya, mereka dikaruniai empat orang anak: yang pertama adalah Hj. Percha Leanpuri B.Bus., MBA (anggota DPR RI masa jabatan 2019-2024), kemudian ada Hj. Samantha Tivani dengan gelar B. Bus., MIB, disusul oleh Leony Marezza Putri yang memiliki gelar BA, serta sang adik bungsunya yakni Ratu Tenny Lariva.
(Lifehack My ID/Tribunnewswiki.com/TribunSumsel.com/Arief Basuki Rohekan/TribunJatim.com/Alga)